Hidup, saya percaya, adalah pergerakan dari satu keberuntungan ke keberuntungan lainnya — selama kita mau menerimanya dalam bingkai syukur. Pagi-pagi sekali saya meninggalkan rumah, menuju bandara. Soetta untuk bertolak menuju Cambridge, Massachusetts. Rute yang dipilih melewati Narita, Tokyo — sekadar transit dua, tiga jam sebelum melanjutkan ke Logan, Boston. Begitulah rencananya. Tapi Yang Maha Mengatur rupanya punya skenario yang jauh lebih menarik. Mesin pesawat bermasalah. JAL mengumumkan penerbangan dibatalkan hingga esok hari. Ada kekecewaan yang sempat menyelinap — bayangan suasana Harvard Yard dan koridor MIT yang sudah terbayang sejak jauh hari, tiba-tiba menguap begitu saja. Jepang, rupanya, belum selesai dengan saya. Beberapa waktu lalu, saya pernah duduk diam di Kamakura — di hadapan keheningan yang diajarkan tradisi Zen berabad-abad lamanya. Saya belajar bahwa mushin, pikiran yang kosong dari agenda, adalah pintu masuk menuju kehadiran yang sesungguhnya. Thich Nhat Hanh ...
- Get link
- X
- Other Apps