Lebih dari satu dekade lalu, ketika Prabowo Subianto pertama kali turun gelanggang melawan Joko Widodo, ada gelombang doa yang mengalir deras dari jutaan bibir. Doa yang tulus, yang khusyuk, yang dipanjatkan di sepertiga malam dengan air mata dan sajadah basah. Ya Allah, jadikanlah Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia. Allah mendengar. Allah selalu mendengar. Hanya saja, Allah tidak terburu-buru. Dua kali Prabowo melawan Jokowi. Dua kali pula ia pulang dengan tangan kosong. Para pendukungnya yang dulu berdoa dengan penuh harap, perlahan mulai menggeser posisi. Ada yang kecewa. Ada yang beranjak. Ada yang diam-diam mengganti jagoan. Sangat manusiawi — kita memang makhluk yang mudah bosan, mudah lupa, dan sangat mahir mengubah keyakinan tanpa merasa perlu mengumumkannya secara resmi. Tapi doa? Doanya tidak ikut diubah. Bukan karena lupa mencabutnya. Tapi karena memang tidak terlintas bahwa doa perlu diperbarui. Doa dianggap selesai ketika bibir berhenti bergerak. Padahal ...
- Get link
- X
- Other Apps