Posts

Refleksi Maulid

(Tulisan lama, tapi masih relevan) Sudah dua hari kami berada di Kupang, menyatu dalam sebuah program Active Citizen Social Enterprise Leaders di Amaris hotel. Dari berbagai wilayah berbeda di NTT, latar belakang dan juga agama yang berbeda. Cuma satu yang mempersatukan: bahasa Indonesia. Shubuh itu, berita tentang penyerbuan sebuah ibadah jemaat Kristen di Bantul sungguh menyesakkan dada. Sekelompok massa menerobos masuk sambil berteriak-teriak, membubarkan paksa ibadah yang tengah berlangsung — di dalamnya ada lansia dan anak-anak yang sedang berdoa.    Mengapa masih saja sejumlah orang sedemikian mudah tersulut, bahkan ketika jalur resmi sudah ditempuh pihak lain? Bukankah semestinya persoalan seperti ini diselesaikan lewat dialog dan aturan, bukan dengan menerobos paksa tempat orang lain sedang beribadah? Sesedikit pengetahuan saya tentang shirah Nabi Muhammad, beliau begitu menjaga hak orang lain untuk beribadah dengan tenang dan aman, bahkan menjamin keselamatan rumah i...

Tabungan Kebaikan dan Para Pemerhati Absen

Passion Is Bullxxxx

Dukun Digital dan Azab Instan

Kambing, Emas, dan Republik yang Baik Hati

Seribu Aksi, Single Hero

Pemahaman Tekstual atas Hadits dalam Bayang-Bayang Rudal Sijjil

Cermin Algoritma: Ketika Teknologi Hanya Memperjelas Siapa Kita

Belajar dari Masa Depan