Sudah puluhan dekade lebih kita berkhutbah tentang dahsyatnya wakaf sumur Utsman bin Affan, agungnya Al-Azhar di Mesir, dan romantisnya kisah saudagar Aceh yang mewakafkan hotel di tanah suci. Tiga legenda itu kita dendangkan seperti lagu wajib nasional di setiap seminar, khutbah Jumat, dan rapat tahunan lembaga. Seakan-akan, dengan menyebut nama-nama itu saja, keberkahan auto-default turun dari langit tanpa perlu menyentuh bumi. Kita begitu fasih mengutip sejarah dan menyerap gagasan. tapi entah kenapa selalu gagap ketika harus menulis bab berikutnya: implementasi. Wakaf masih jadi dongeng klasik — penuh moralitas, minim realisasi. Padahal kalau diukur dari jumlah lembaga, peraturan, dan forum diskusi, kita sudah pantas bikin “Wakaf Expo” tahunan lengkap dengan spanduk bertuliskan: “Menuju Indonesia sebagai Pusat Wakaf Dunia.” Sayangnya, yang jadi pusat baru sebatas pusat dokumentasi gagasan dan nostalgia reuni. Dua puluh tahun lewat, Badan Wakaf Indonesia — yang diharapkan menjadi “U...
- Get link
- X
- Other Apps