Posts

Bernapas Bersama (Bagian 3 dari 6 Tulisan)

Ada satu kalimat dalam tulisan pak Otto Scharmer yang membuat saya berhenti sejenak: perhatian yang kita berikan satu sama lain itu ibarat napas dari hubungan sosial kita. Kalau kita terlalu menutup diri, kita kehilangan koneksi dengan orang lain. Tapi kalau terlalu terbuka tanpa batas, kita kehilangan diri sendiri. Yang sehat itu di tengah — seperti napas, ada tarik dan ada buang, ada buka dan ada tutup, pada waktu yang tepat. Saya sudah lama mencari kata yang pas untuk menjelaskan ini — dari belajar meditasi Zen di Kamakura Jepang, pendeta Thick Nath Hanh di Paris sampai ajaran Gede Prama di Tajun, Bali Utara. Dan sebenarnya, dalam ibadah kita sendiri sudah ada istilahnya: khusyu'. Kalimat pak Otto ini, menurut saya, adalah penjelasan paling pas tentang khusyu' yang pernah saya baca — padahal ditulis orang yang mungkin tidak pernah membuka kitab fikih sama sekali. Khusyu' itu bukan menutup diri dari dunia. Kalau kita cuma "mematikan" semua indra, itu bukan khusy...

Tiga Retak di Tanah yang Sama (Bagian 2 dari 6 Tulisan)

Mengosongkan Dulu, Baru Mengisi (Bagian 1 dari 6 Tulisan)

Selamat Jalan, Sang ‘Pemulung Kata’

Undangan yang Menyepelekan

Kepada Yang Terhormat, yang Terlalu Sering Bersabda

Belajar Lagi di Usia Setengah Abad: Ketika Allah Masih Menganggap Kita Layak Jadi Mahasiswa