Di sebuah ruangan yang penuh kitab kuning dan aroma teh panas, para ulama duduk melingkar. Jubah mereka berkibar perlahan saat kipas angin tua berdecit di langit-langit. Malam itu, mereka sedang membahas masalah-masalah besar, seperti apakah air liur anjing bisa membuat seseorang terjerumus ke neraka lapis ke tujuh atau tak ubahnya seperti memelihara kucing. Lalu, datanglah seorang pria dengan kacamata akademisi dan senyum skeptis. Namanya Khaled Abou El Fadl. Ia duduk, menyeruput tehnya, lalu berkata dengan tenang, “Mengapa kita lebih takut pada anjing daripada pada kezaliman. Mengapa kita lebih takut makan daging babi daripada dosa korupsi?” Sekejap, ruangan itu mendadak sunyi. Seseorang hampir tersedak kurma Medjool. Abou El Fadl memang terkenal suka membuat gaduh. Bukan dengan teriakan, tapi dengan dalil yang menantang ‘akal sehat’. Selain membela anjing yang tak bersalah itu, ia juga berbicara tentang perempuan. Katanya, perempuan punya hak penuh untuk berbicara, memimpin, dan men...
- Get link
- X
- Other Apps