Pada awalnya, Wall Street hanyalah sebuah film. Sebuah tontonan dengan jas mahal, telepon genggam sebesar batu bata, dan kalimat-kalimat tajam yang seharusnya membuat kita mengernyit, bukan mengangguk. Oliver Stone barangkali bermaksud menyodorkan satire tentang kerakusan kapitalisme Amerika. Namun sejarah, seperti pasar saham, gemar bergerak di luar niat awal. Masalahnya bukan pada film itu sendiri, melainkan pada nasib sial yang menimpanya: ia ditonton terlalu serius. Gordon Gekko, tokoh yang seharusnya dibenci, justru diangkat sebagai nabi baru. Kutipannya dipajang di dinding ruang rapat, diajarkan di kelas manajemen, dan—tanpa malu—dijadikan pembenar moral bagi bonus tahunan yang tidak pernah cukup besar. “Greed is good,” kata Gekko. Sebuah kalimat yang bekerja seperti pisau bedah, memotong panjang-lebar teori ekonomi menjadi slogan yang ramah poster. Di tangan Gekko, doktrin Milton Friedman tentang tanggung jawab sosial perusahaan mengalami mutilasi estetis: rapi, cepat, dan berda...
- Get link
- X
- Other Apps