Ada satu titik di langit-langit kapel di kawasan MIT itu, yang sengaja dibiarkan bolong. Bukan cacat, bukan kealpaan arsitek—melainkan keputusan yang paling berani dari seluruh rancangan: membiarkan langit masuk tanpa sensor, tanpa kaca patri yang menceritakan kisah siapa pun. Dari lubang bundar itu, cahaya turun menembus untaian logam tipis yang bergantung berjuntai-juntai, seperti hujan yang dibekukan di tengah jatuhnya. Di bawahnya, sebongkah marmer putih berdiri sunyi di atas panggung bertingkat empat—bukan mimbar, bukan mihrab, bukan altar dalam pengertian satu agama. Hanya batu, cahaya, dan keheningan yang dirancang untuk menampung siapa saja yang datang membawa keresahannya sendiri. Saya duduk di antara kursi-kursi kayu berjajar itu, dan yang pertama terasa bukan kekhusyukan dalam pengertian ritual, melainkan kekhusyukan dalam pengertian ruang. Dinding bata melengkung tanpa sudut, seolah menolak untuk membentuk batas yang tegas antara di dalam dan di luar, antara ru...
- Get link
- X
- Other Apps