Posts

Respek. Buya Hamka. Tan Malaka

Menilai Tan Malaka itu seperti menilai pisang goreng. Hangat, gurih, tapi entah kenapa selalu menyisakan sedikit rasa minyak jelantah yang terlalu pekat. Begitulah kira-kira Buya Hamka memandang pemikiran Tan Malaka—tak pernah tuntas di satu sisi saja. Sebagai ulama, Buya Hamka punya pijakan yang kokoh di atas agama. Sementara Tan, dengan gaya anak muda revolusioner, memutuskan untuk berdiri di atas tiga tiang yang ia namakan Materialisme , Dialektika , dan Logika . Kedengarannya gagah, bukan? Tapi coba tanyakan pada Buya Hamka, ia mungkin akan menjawab, “Kamu ingin berdiri di atas logika, tapi kaki manusiamu tetap menapak di tanah ciptaan Tuhan. Jangan lupa itu.” Buya Hamka paham benar siapa Tan Malaka. Ia tidak sekadar membaca, tapi menimbang, memeras, hingga menyaring gagasan Tan seperti seorang pedagang kopi mencari biji terbaik. Hasilnya? Hamka mengakui, Tan adalah pemikir yang tangguh. “Jangan salah, logikanya tajam,” kata Hamka dalam salah satu diskusinya. Tapi Hamka, dengan sen...

Sesat Pikir Soal Harga

Satir Yang Lupa Cara Menertawakan Diri Sendiri

Obituari buat Pak Dito

Lagi Lagi Soal Riba

Khaled Abou El Fadl: Si Pemberontak di Majelis Fikih

Ingat Terus atau Lupakan?

Islam Minimalis

Sehari di Al-Ittifaq

Durian Adventures

Thomas Piketty: Capital and Ideology