Dalam senyap, tak sedikit amil zakat yang menua bersama kenangan — tentang hari-hari mengantar bantuan, merangkul harapan, dan membisikkan kepada mustahik bahwa suatu hari nanti, engkau akan menjadi muzakki . Tapi hidup memang kadang membiarkan idealisme terhenti di ujung masa bakti, dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya sendiri. Di tengah gegap gempita dakwah pemberdayaan, ada kisah-kisah sunyi dari para amil yang telah purna tugas. Mereka yang pernah menjadi jembatan harapan, kini terpuruk sendiri — beberapa karena sakit, terbelit utang, atau sebab lainnya. Bagaimanapun, hidup tak pernah memberi kesempatan kedua. Pertanyaannya: mengapa bisa begitu? Jawabannya tidak bisa disederhanakan, tapi satu hal mesti kita sepakati: tidak sepantasnya dana zakat — yang dititipkan untuk fakir, miskin, dan mereka yang benar-benar tidak berdaya — dipakai untuk menyelesaikan urusan purna tugas amil. Mereka sudah menerima haknya selama bertugas: gaji, fasilitas, dan pelatihan. Maka, segala ikhtia...
- Get link
- X
- Other Apps