Konon, di zaman kuda gigit besi, orang yang ingin bergunjing harus bersusah payah. Ia mesti mendatangi warung kopi, menunggu ada konsumen lain duduk di sebelahnya, lalu membuka percakapan dengan kalimat sakral: "Eh, sampeyan sudah dengar apa belum?" Itu pun jangkauannya terbatas. Paling jauh sampai ‘sak udutan’, dan sorenya sudah basi. Sekarang tidak. Ghibah sudah naik kelas. Ia punya kantor, punya tim, punya target bulanan, bahkan mungkin punya KPI dan bonus akhir tahun. Pergunjingan yang dulu hanya hobi ibu-ibu arisan atau barisan emak-emak pencari kuru, kini jadi industri kreatif . Dan seperti industri lainnya, ia mengenal pembagian kerja. Ada bagian riset: mencari siapa yang paling enak dijadikan sasaran. Ada bagian produksi: merakit potongan video, memelintir kalimat, menambahkan ilustrasi musik sedih biar terasa seperti kebenaran. Ada bagian distribusi: ribuan akun senggol-bacok, yang begitu bangun tidur sudah langsung naik pitam. Marah itu pekerjaan, saudara. Dibayar p...
- Get link
- X
- Other Apps