Posts

Kembali ke Khittah CSR

CSR kini telah naik kasta. Ia tak lagi sekadar bahan obrolan di warung kopi dekat pabrik, melainkan sudah duduk di ruang rapat berpendingin udara, dibahas oleh direktur dan politisi yang fasih bicara tanggung jawab sosial sambil menghitung laba. Namun, di balik tampilannya yang kian bergengsi, CSR sering kehilangan makna aslinya: bukan kesadaran etis bahwa setiap keputusan bisnis punya dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang harus dipertanggungjawabkan, melainkan kosmetik moral bagi wajah kapitalisme. Howard Bowen sejak awal mengingatkan: tanggung jawab sosial berarti perilaku yang transparan, taat hukum, dan berkontribusi pada keberlanjutan. Dalam bahasa sederhana: jika pabrikmu menyebabkan banjir, hentikan dulu penyebabnya sebelum bagi-bagi sembako. Sayangnya, seperti agama, CSR juga melahirkan banyak tafsir. Ada yang memegang khittah keberlanjutan, ada pula yang menyelewengkannya jadi program amal tahunan berlogo perusahaan. Di Eropa, CSR berkembang menjadi bid’ah hasanah dalam ...

Zakat Profesi

Pembusukan Demokrasi: Kleptokrasi, Kakistokrasi, dan Plutokrasi

Spiritual atau Kepemimpinan?

Mazhab Itu Penting, Kecuali Kalau Kamu Punya Rudal

Tugas Pro Bono dan Tabungan yang Tak Kasat Mata

Knowledge-based Organization

Nikah Siri

Perjalanan Menuju Kepemimpinan yang Utuh