Sebagai penulis, saya punya kekaguman besar pada Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer. Kekaguman yang sedikit lebih kecil saya berikan pada Arswendo Atmowiloto. Ketiganya menulis di bawah tekanan yang membuat keluhan kita hari ini terdengar seperti lelucon. Tan Malaka menulis sambil jadi buronan, dan bukan buronan satu pemerintah saja. Hindia Belanda, Inggris, hingga Amerika ikut mengincarnya, mungkin Filipina juga. Kalau sekarang orang mengeluh kurang referensi, Tan menulis Madilog nyaris tanpa buku di tangan dan pasti juga, tanpa perpustakaan. Beruntung, otaknya lebih tertata daripada hidupnya yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ia menulis di penginapan murah, di kapal asing, mungkin juga di bawah ranjang saat mata-mata kolonial mengetuk pintu. Bandingkan dengan kita yang menunda menulis karena kursi kurang ergonomis. Pramoedya Ananta Toer lebih sial. Tan masih bisa kabur, sedangkan Pram langsung diasingkan ke Pulau Buru, tempat menulis lebih berbahaya daripada demo. Ker...
- Get link
- X
- Other Apps