Ijazah itu cuma selembar kertas. Tapi tidak semua kertas bisa menghidupkan perdebatan panjang melampaui usia baterai remote televisi atau satu kali masa jabatan Bupati. Ijazah milik Presiden ke-7, misalnya. Entah apa yang terkandung di dalamnya—mungkin cairan sakti dari tinta cumi-cumi yang endemik di Raja Ampat, atau mungkin ada mantra rahasia dari Kanjeng Ratu Kidul—sampai-sampai segelintir manusia merasa hidupnya tak lengkap kalau belum melihatnya langsung, dengan mata kepala sendiri, tanpa menggunakan kacamata anti-silau. Mereka adalah manusia-manusia gigih. Lebih gigih dari debt collector yang mengejar tunggakan cicilan. Tiap tahun, mereka muncul dengan pertanyaan itu-itu juga. “Ijazahnya mana? Jangan-jangan palsu?” Seakan-akan tugas kenegaraan bisa batal hanya karena ada dokumen ijazah yang tidak diperlihatkan di depan umum, dengan sorot lampu studio dan backsound sinetron. Padahal, Komisi Pemilihan Umum secara berjenjang sudah bilang: sah. UGM—tempat yang cara dapat ijazah...
- Get link
- X
- Other Apps