Pemimpin itu, kata para pujangga kehidupan, harusnya menjadi pelayan khalayak yang dipimpinnya. Tapi, entah siapa yang mulai, pelayan kini malah berubah jadi raja tanpa mahkota, duduk di singgasana empuk sembari menanti nasi bungkus datang sendiri sampqi ke mulutnya. Ah, siapa pula yang memulai, bahwa melayani itu artinya duduk manis menunggu pujian sambil pura-pura sibuk mengetik di layar ponsel? Mari kita lihat dunia nyata. Di jalan-jalan, ada spanduk besar bertuliskan “Pemimpin Kami Merakyat,” lengkap dengan foto pemimpin itu sedang makan di warung sederhana, sambil mengerutkan kening seolah-olah sedang memikirkan nasib bangsa. Lucunya, spanduk itu dipasang di jalan berlubang yang tak pernah dilapisi aspal baru. Jadi, rakyat yang lewat harus menghindar dulu, baru bisa membaca pesan indah tersebut. Ironi adalah bahasa universal, rupanya. Pemimpin sejati itu pelayan, katanya. Tapi pelayan macam apa yang bikin acara pesta besar, lengkap dengan panggung megah, untuk menunjukkan bahwa di...
- Get link
- X
- Other Apps