Pak Otto Scharmer menutup tulisannya dengan cerita kecil: ada gerhana matahari tepat pada hari dia terbang pulang dari Bali. Dia menyebut pemahaman orang Bali tentang gerhana — bukan sebagai bencana, tapi sebagai ajakan untuk menyalakan matahari di dalam diri kita, saat matahari di luar sedang meredup. Sepekan ini saya terus memikirkan gambaran itu, sambil mengingat lima tulisan sebelumnya: soal mengosongkan diri dulu supaya bisa diisi yang baru, soal hubungan sosial yang mulai retak, soal perhatian bersama yang saya kenali sebagai khusyu', soal contoh-contoh kecil yang harus berhasil dulu sebelum bisa menular, dan soal menyelaraskan perhatian, niat, dan tindakan di setiap langkah kita. Setiap krisis yang pernah saya alami dari dekat — entah di pekerjaan, di keluarga, atau di hidup pribadi — punya bentuk yang sama. Dari dalam, rasanya seperti bencana. Padahal jarang benar-benar begitu. Lebih sering, itu cuma gerhana: peredupan sementara yang justru membuka ruang untuk sesuatu yang ...
- Get link
- X
- Other Apps