Posts

Profesor Tribun

Setiap musim, negeri ini melahirkan ribuan jenius baru. Mereka mungkin lahir di rumah sakit. Yang pasti mereka kemudian muncul lagi di kolom komentar, di ruang seminar, dan di sudut-sudut warung kopi yang wi-fi-nya kencang. Keunggulan mereka satu: belum pernah merasakan lumpur lapangan. Sebab turun ke lapangan itu berbahaya. Bola bisa direbut. Kaki bisa keseleo. Napas bisa putus di menit ke-60 ketika lawan justru makin segar. Dan nama bisa dicatat dalam sejarah sebagai orang yang salah umpan di momen paling genting. Maka lebih aman duduk di tribun, berteriak dengan lantang, dan menyimpan sepatu di lemari — bersih, mengkilap, tak pernah berlumpur. Di tribun inilah para Profesor Tribun bermukim. Mereka tahu segalanya. Mereka tahu mengapa gelandang itu salah langkah. Mereka tahu mengapa kiper itu terlambat membaca bola. Mereka tahu formasi apa yang seharusnya dipakai, siapa yang seharusnya diganti, dan di menit keberapa substitusi itu dilakukan. Dan tentu saja mereka tahu — dengan keyakin...

Danantara dan Dua Pertanyaan yang Belum Terjawab

Massachusetts, Selayang Pandang

Dua Jalan Menuju Amerika (dan Bumi Ternyata Memang Bulat)

An-Nisa 135 di Dinding Harvard