Satu Muharram kembali bertamu di halaman waktu kita, mengingatkan bahwa perjalanan belum usai. Kita membuka lembar baru dalam kalender, tapi entah apakah kita benar-benar membuka lembar baru dalam hati. Hijrah, —kata yang mulia itu, kini sering terdengar di mana-mana. Digaungkan di panggung-panggung dakwah, dicetak di kaus dan spanduk motivasi, dan dijadikan slogan perubahan diri. Tapi seperti banyak kata suci lainnya, ia perlahan kehilangan kedalaman makna. Disederhanakan, direduksi, dan kadang dipakai untuk memisahkan, bukan menyatukan. Di zaman ini, kata “hijrah” kadang malah menjadi tonggak penanda: siapa yang sudah, siapa yang belum. Siapa yang pantas disebut saudara, dan siapa yang wajib dijauhi. Dan dalam banyak ruang, bahkan sesama pengucap syahadat pun saling menatap dengan curiga. ‘Aqidahnya sesat!’ Lalu kita teringat lagi satu kenyataan pahit yang terlalu lama dibiarkan membeku di dalam sejarah: umat Islam pecah oleh nama-nama yang mereka muliakan. Sunni dan Syiah. Dua kutub...
- Get link
- X
- Other Apps