Saya tidak pernah berencana menjadi penjelajah. Ferdinand de Magelhaens membutuhkan armada kapal dan waktu bertahun-tahun dengan nyawa sebagai taruhannya. Saya melakukannya dengan dua tiket return pesawat kelas ekonomi, satu koper, dan koneksi WiFi yang lumayan banter. Tapi hasilnya sama: bukti bahwa bumi itu bulat. Perjalanan pertama, saya terbang Jakarta–Dubai–New York. Ke barat. Melintasi Timur Tengah, Eropa, Atlantik. Standar. Bisa diprediksi. Saya tiba di negeri paman Sam dengan jet lag paripurna dan keyakinan penuh bahwa dunia memang berputar ke arah yang benar. Perjalanan kedua, saya terbang dengan rute Jakarta–Narita–Boston. Ke timur. Arah yang berlawanan. Melintasi Jepang, Pasifik, pantai barat Amerika, lalu belok kanan menuju Boston. Rute yang secara intuitif terasa seperti kabur menjauhi tujuan — seperti orang yang mau ke warung sebelah tapi memilih jalan memutar lewat gang belakang, RT sebelah, dan lapangan bola. Dan saya tetap sampai di tujuan. Di sinilah letak kejenakaann...
- Get link
- X
- Other Apps