Good bye, Ramadan


Saya yakin, seyakin-yakinnya, dengan sepenuh keyakinan yang saya miliki, bahwa naluri dasar manusia adalah berpikir, berkata dan berbuat baik.  Itu naluri dasarnya.  

Sayangnya, naluri dasar itu kerap tertutup oleh hawa nafsu.  Akibatnya, artikulasi yang keluar sebagai buah pikir, ucapan dan tindakan, adalah hal-hal yang cenderung buruk. Pikirannya negatif, ucapannya berupa makian atau umpatan.  Perbuatannya cenderung zalim. 

Ramadan, baru saja berlalu.  Bagai seteguk air di tengah kehausan, dia memberikan kesejukan.  Terbukti, umpatan, makian dan kemaksiatan banyak berkurang di sosial media, bahkan dari orang-orang yang hobi sehari-harinya  adalah mengumbar kebencian. Sosial media aman damai tanpa pertentangan tajam.

Bukankah itu tanda-tanda, bahwa naluri kebaikan manusia, memang fitrah dari sononya?  Semoga saja, perubahan drastis sebulan lalu itu, bisa berpengaruh ke bulan-bulan berikutnya.  

Kalau tidak?  Yaaaaaaah, ibaratkan saja Ramadan sebagai bulan penjara, di mana mereka (para pengumpat, pembenci dan pemaki) itu digembok jari-jemarinya sehingga nggak bisa menulis.  Di luar Ramadan, ya bebas lagih ...


Comments