Bulan Sabit Tipis di Paruh Akhir Ramadan


Rembulan berbentuk sabit makin menipis. Sinarnya meredup di langit cerah, pertanda hitungan bulan pada kalender Hijriyah memasuki saat-saat akhir, menjelang masuk ke bulan yang baru. Ramadan segera berakhir, dan mulai bulan yang baru, Syawal.


Sejenak tengok mushaf al-Qur'an yang selama setengah bulan sudah kita baca. Ayat demi ayat, surat demi surat, juz demi juz.  Mungkin sudah mendekati akhir juga, atau bahkan sudah beberapa kali kembali ke titik awal. 


Kalau bacaan Al-Qur'an itu sudah memasuki juz terakhir, coba baca surat Al-Ma'uun. Resapi pula terjemahnya :


(1) Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (2) Dialah orang yang menghardik anak yatim, (3) dan tidak menyuruh memberi makan orang miskin (4) Maka celakalah orang yang shalat (5) (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya (6) yang berbuat riya' (7) dan enggan (memberikan) bantuan


Bahkan orang yang shalat pun bisa celaka, jika ia riya' dan atau enggan membantu ...


Mungkin itu sebabnya dahulu, KH Ahmad Dahlan pernah mengajar surat ini berkali-kali kepada para muridnya. Beliau mengajar Al-Qur'an, bukan asal para murid membaca berulang kali (dengan target banyaknya bacaan) dan semakin fasih, atau bahkan menghafalnya luar kepala, tapi lebih pada bagaimana mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.


Di hari-hari menjelang akhir Ramadan, mari sejenak memandang sekeliling kita. Masih adakah anak-anak yang tidak mampu, yang belum terpenuhi kebutuhan sandang-pangannya? Masih adakah fakir miskin dan mustahik lain yang bisa kita bantu?


Ebiet G Ade pernah bertutur, mumpung kita masih diberi waktu. Belum terlambat lakukan perbaikan. Tak seorang pun tahu sebelum terjadi. Akankah kita bertemu lagi dengan Ramadhan mendatang. Jangan sampai menyesal, jika kita lebih dahulu dipanggilNya pulang.


Setiap hari, jatah hidup kita terus berkurang. Tugas kita masing-masing, menjadi manusia yang tidak hanya sekedar ritual artifisial atau seremonial, tetapi lebih esensial. Menjadi lebih peduli pada sekeliling, daripada meninggikan ego masing-masing pribadi.


Laitsal ‘ied liman labisal jadiid. Wa laakinnal ‘ied liman thaa’athuhu taziid. Wa laitsal ‘ied liman tajmal libaas wal markuub. Innamal ‘ied liman gufirat lahudz dzunub (‘Idul Fitri bukan milik mereka yang berpakaian baru. Namun milik mereka yang tingkat ketundukan kepada-Nya meningkat. Bukan juga milik mereka yang menghiasi dirinya dengan busana dan kendaraan. Tetapi ia milik orang yang dosa-dosanya terampunkan).

Comments