Zaman dulu, kita punya film komedi legendaris Untung Ada Saya, dibintangi Gepeng Srimulat. Intinya sederhana: kalau ada masalah apa pun, tokoh utama pasti muncul sambil berkata, “Untung ada saya!” Lalu semua masalah selesai… atau minimal penonton tertawa dulu.
Kini, beberapa dekade berlalu, Indonesia menemukan versi barunya — versi yang lebih modern, lebih digital, dan lebih sering muncul di kolom komentar media sosial daripada di layar tancap. Bedanya, tokoh kali ini tidak pernah berkata “Untung ada saya.” Justru publiklah yang seperti berteriak, “Untung ada beliau!”
Meski konteksnya kadang… agak absurd.
Misalnya:
Ada bandara tiba-tiba sepi petugas Imigrasi dan Bea Cukai. Orang bingung. Media sosial panas. Netizen menoleh ke kiri, menoleh ke kanan, lalu — seperti disetir oleh naluri komunal — mereka menemukan satu nama yang bisa menanggung beban nasional:
“Ah, ini pasti karena Pak Jokowi yang meresmikan bandara tersebut!”
Faktanya, bandara lokal ya memang nggak ada petugas Bea Cukai dan Imigrasi. Dan pak Jokowi tidak meresmikan bandara IMIP (milik privat). Yang diresmikan adalah bandara Bungku/Maleo.
Padahal pula, yang meresmikan itu kerjaannya sebatas nyabut tali pita dan senyum ke kamera. Tapi, sudahlah. Di Indonesia, tali pita sering dianggap akar persoalan.
Lalu ada lagi:
– Harga naik, katanya karena “dulu Pak itu begini”.
– Cuaca panas, “dulu pemerintah era itu kurang nanam pohon.”
– Jalan macet, “karena proyek zaman beliau masih menyisakan trauma lubang.”
– Wifi lemot, “mungkin BTS yang dibangun era itu kurang doa peresmian.”
Bahkan ada yang nyeletuk:
“Kalau saya susah tidur, itu sisa-sisa efek pemerintahannya.”
Ini belum diverifikasi ahli kesehatan, tapi tingkat keyakinannya setara testimoni keturunan ke-18 Raden Wijaya.
Akhirnya kita sampai pada kesimpulan:
Di negeri ini, jika ada hal buruk, kita tak perlu repot menyalahkan sistem, regulasi, birokrasi, atau perencanaan jangka panjang. Tidak perlu juga marah ke pegawai yang mangkir, atau manajemen yang kurang disiplin.
Tidak. Itu terlalu teknokratis.
Lebih mudah menunjuk figur yang sudah purna tugas dan berkata,
“Untung ada beliau… kalau tidak, kita bingung mau salahkan siapa.”
Kadang saya membayangkan, kalau Gepeng masih hidup, mungkin beliau akan buat sekuel berjudul Untung Ada Beliau. Plotnya sederhana: setiap ada masalah nasional — dari banjir sampai password WiFi kantor — semua karakter otomatis saling pandang dan berkata kompak:
“Pasti gara-gara yang meresmikan!”
Dan film itu tentu laris, karena seluruh penonton merasa relate.
Akhir cerita, negara ini mungkin tidak kekurangan solusi — hanya kebanyakan kambing hitam. Tapi tak apa. Yang penting kita tetap punya kebiasaan komunal yang sehat: kalau bingung, salahkan saja yang pernah tersenyum saat gunting pita.
Selebihnya, kita tertawa dulu. Biar tidak stres. Untung ada pak Jokowi, jadi ada pihak yang bisa dituding bersalah!

Untung ada Zaenal Abidin
ReplyDelete