Lu. Gue. End!


Sekarang dunia ini sesederhana foto di masa lalu: hitam dan putih. Tak ada tempat bagi abu-abu, apalagi ungu. Orang yang waras pasti pusing. Mereka yang pusing ya bukan orang waras. Begitulah logika dunia yang katanya sudah modern.

Ada dua kubu: penganut Bumi bulat dan penganut Bumi datar. Bagaimana dengan Bumi lonjong atau bergelombang kayak kue pukis? Kagak ada. Mana sempat! Yang datar sibuk berdebat bahwa foto dari NASA itu palsu, sementara yang bulat mengamuk kenapa Google Maps tak pernah bikin versi “piringan tebal”. Pokoknya kalau tidak bergabung dengan salah satu kubu, lebih baik kau bikin peta sendiri dan pindah ke galaksi lain.


Coba tengok Pilpres Amerika. Ada kubu pro-Trump dan Anti-Trump. Tidak ada opsi “santai dulu ah”. Kalau kau pro-Trump, maka kau otomatis pembenci demokrasi, rasialis, dan percaya vaksin bikin manusia jadi robot. Kalau kau anti-Trump, kau otomatis penggemar komunis, antiagama, dan pendukung Rusia. Di dunia hitam-putih, ide yang berbeda lebih buruk dari hoax.


Mari geser ke sini. Ingat Ahok? Dulu, dunia juga terbagi dua. Penentang Ahok adalah pembela agama, sementara pendukung Ahok otomatis penista agama. Siapa pun yang mencoba menilai kasusnya secara obyektif—menghormati prestasinya sambil tetap menegur kekasarannya—langsung dicap pendusta. Logikanya begini: kalau kau tidak total membela atau total membenci, maka kau ini manusia setengah jadi.


Padahal orang-orang ini, kaum “tengah”, yang mencoba netral itu, sejatinya cuma ingin mempraktikkan sesuatu yang disebut “tabayyun”. Hati-hati dalam menilai, sabar dalam menghukum. Tapi siapa peduli? Zaman sekarang, siapa yang punya waktu untuk menjadi adil? Adil itu mahal. Hitam-putih lebih murah, lebih cepat, dan bonusnya: kau dapat musuh gratis.


Lalu ada pembenci Jokowi dan pembela Jokowi. Kaum tengah? Lagi-lagi nasibnya seperti sandal jepit putus. Dicampakkan ke sana-sini. Pembenci bilang mereka tidak kritis. Pembela bilang mereka tidak loyal. Padahal kaum tengah ini kadang lebih sibuk dari dua kubu itu. Mereka mengkritik Jokowi sambil tetap mengingatkan bahwa beliau presiden sah. Mereka membela Jokowi dari hoax sambil menagih janji Nawacita. Tapi siapa peduli? Siap-siap saja dikasih cap BuzzeRp. Dunia bukan ruang diskusi, melainkan ring tinju.


Intinya, kini manusia cuma mengenal dua kategori: “kami” dan “mereka.” Hitam dan putih. Kalau kau mencoba menjadi jembatan, jangan harap ada yang berterima kasih. Musuh dari musuh kami, adalah kawan kami. Sebaliknya, kawan dari musuh kami adalah musuh kami. Kau akan dianggap pengganggu: menghalangi kami untuk menyerang mereka, dan mencegah mereka untuk menjatuhkan kami. Sialnya, kaum tengah ini justru makin mirip jembatan sesungguhnya—ditopang di kedua ujung, tapi diinjak-injak semua pihak. Karena mencoba di tengah, siap-siap saja jadi sandzak hidup.


Mungkin dunia memang butuh dua kubu saja. Hitam dan putih. Tapi, coba renungkan, tanpa abu-abu, bagaimana kita tahu batas di antara keduanya? Ah, sudahlah. Renungan tak laku. Dunia kini bukan soal berpikir, tapi soal memilih: kau bersama kami di sini, atau kau musuh. Adil? Itu cuma istilah lama di buku pelajaran yang entah kapan terakhir kali dibuka.

Comments