Kolaborasi. Kawan. Lawan


Kolaborasi adalah sebuah kata yang terdengar manis seperti janji kampanye, tetapi sering kali pahit ketika dijalankan pemenang Pilkada. Semua orang mendukungnya—di seminar, di ruang rapat, di webinar bertajuk sinergi untuk masa depan cerah. Namun, Adam Kahane dalam Collaborating with the Enemy seolah datang ke tengah seminar itu, menarik mikrofon pembicara, dan berbisik, “Kolaborasi tidak selalu tentang keselarasan, cinta dan harmoni. Kadang, ia tentang menahan diri untuk tidak meninju rekan kerja atau mitra anda.”

Adam Kahane bukan sembarang motivator bertampang segar yang bicara soal kerja sama dengan senyum selebar pintu garasi. Ia adalah fasilitator yang kenyang pengalaman menangani konflik di berbagai belahan dunia, dari bisnis hingga politik, dari meja runding hingga meja makan. Dalam bukunya, ia membongkar mitos besar yang selama ini kita telan bulat-bulat: bahwa kolaborasi itu harus nyaman, harus harmonis, harus penuh pelukan dan jabat tangan erat seperti iklan asuransi keluarga bahagia.


Tidak, kata Kahane. Kolaborasi sejati sering kali melibatkan orang-orang yang anda benci, curigai, bahkan anggap sebagai biang masalah. Anda ingin bekerja hanya dengan orang-orang yang sejalan dengan pemikiran anda? Sayang sekali, dunia nyata tidak menyediakan fasilitas mewah semacam itu. Kehidupan bukan seminar team-building di puncak gunung dengan pemandangan hijau dan sesi trust fall. Kehidupan adalah perdebatan di meja rapat, tatapan sinis antar departemen, dan diskusi projek yang lebih mirip mediasi perceraian.


Alih-alih menyuguhkan solusi manis ala buku-buku motivasi yang menjanjikan bahwa semua konflik bisa diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan secangkir kopi hangat, Kahane menawarkan konsep stretch collaboration. Dalam bahasa sederhana: terima saja bahwa anda harus bekerja sama dengan orang yang tidak anda sukai, jangan kaku dalam metode, dan bergeraklah meskipun tanpa kesepakatan bulat. Seperti orang yang tersesat di hutan, kadang jalan keluar ditemukan bukan dengan duduk berembuk selama lima jam, melainkan dengan mulai melangkah—entah ke kiri, ke kanan, atau sekadar meraba-raba arah.


Buku ini menarik karena ia mencabut romantisme kerja sama yang selama ini dijual murah dalam seminar dan buku manajemen. Tetapi bagi mereka yang mendambakan solusi instan, buku ini bisa terasa mengecewakan. Kahane tidak memberi jalan pintas, tidak ada formula ajaib yang bisa mengubah musuh bebuyutan menjadi sahabat karib dalam semalam. Yang ada hanyalah pengakuan jujur bahwa dunia ini memang penuh ketegangan, dan kolaborasi sejati adalah seni bertahan dalam ketegangan itu tanpa saling melempar kursi.


Jadi, apakah buku ini patut dibaca? Jika anda ingin terus percaya bahwa kerja sama selalu berarti harmoni dan kesepakatan, lebih baik cari buku lain yang lebih banyak gambar senyumannya. Tapi jika anda ingin tahu bagaimana bekerja dengan orang-orang yang membuat anda ingin mengundurkan diri setiap Senin pagi, maka buku ini layak dikunyah, dicerna, dan—seperti dalam kolaborasi yang sesungguhnya—diterima dengan segala ketidaksempurnaannya.

Comments