Katrin Kaufer, peneliti MIT yang telah dua dekade mendampingi bank-bank dengan misi keberlanjutan di seluruh dunia, membuka bukunya, Just Money, dengan satu kalimat yang sederhana namun berat:
“Money is not neutral. It’s something we create.”
Bagi Lembaga Amil Zakat, kalimat itu bukan tuduhan. Ia adalah cermin. Bukan cermin yang memperlihatkan kekurangan — karena apa yang telah dibangun LAZ Indonesia selama ini adalah pencapaian nyata: jutaan mustahiq terjangkau, kepercayaan muzakki terus tumbuh, ekosistem filantropi Islam yang semakin matang.
Cermin itu justru memperlihatkan seberapa besar potensi yang masih menunggu untuk dioptimalkan.
Kaufer mengajak kita melihat bank-bank konvensional di Belanda, Kanada, dan Bangladesh yang telah memilih untuk tidak bersikap netral terhadap dampak uang yang mereka kelola.
Mereka bertanya bukan hanya “berapa yang tersalur”, tapi “apa yang tumbuh dari penyaluran itu”. Mereka membangun bukan sekadar transaksi, tapi ekosistem — apa yang digambarkan sebagai akar pohon yang dalam: the social soil, tanah sosial yang menopang pertumbuhan jangka panjang.
Dalam tradisi Islam, semangat ini bukan hal baru. Zakat dirancang sebagai instrumen redistribusi yang memastikan harta tidak hanya berputar di antara segelintir orang (Al-Hasyr: 7). Wakaf (sesungguhnya harus produktif tanpa menyebutnya demikian) selama berabad-abad telah membiayai rumah sakit, sekolah, dan infrastruktur peradaban Islam. Hasilnya, di masa dua Umar, para amil sulit mencari mustahik. Yang ditawarkan Kaufer sesungguhnya adalah bahasa kontemporer untuk sesuatu yang sudah lama hidup dalam warisan filantropi kita sendiri.
Pertanyaannya bukan apakah LAZ sudah bekerja keras — karena jawabannya jelas: ya. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah sepenuhnya sadar bahwa setiap keputusan tentang ke mana dana zakat mengalir adalah keputusan tentang masa depan seperti apa yang sedang kita bentuk. Bahwa dana zakat, infaq, sedekah, dan wakaf yang diamanahkan kepada kita setiap hari bukan sekadar dana untuk disalurkan kepadq mustahik — melainkan sebagai salah satu instrumen paling kuat yang dimiliki masyarakat Islam untuk membangun peradaban yang lebih adil.
“Neutrality is a lack of responsibility.”
— Pierre Aeby, CFO Triodos Bank
Kita memegang kepercayaan. Dan kepercayaan itu layak dijawab dengan kesungguhan yang setara, dengan dampak yang membentuk peradaban baru yang lebih baik. Bukan melestarikan mustahik, tapi memberi jalan bagi mereka untuk berubah menjadi muzakki. Bukan sekadar jargon kosong, karena uang bukan barang netral. Uang juga punya ideologi.
Comments
Post a Comment