Ia memamerkan durian lima ribu rupiah dengan dada dibusungkan. Murah, katanya. Merakyat. Bukti cinta pada negeri. Di saat yang sama ia mengernyit jijik melihat orang makan Musang King ratusan ribu. Boros. Hedonis. Tidak tahu diri.
Durian lima ribu perak itu bukan mukjizat. Itu bukan hasil efisiensi. Itu bukti kegagalan yang belum dicetak di kertas resmi. Karena agar durian bisa semurah itu, orang-orang yang berkontribusi pada rantai pasok harus dibayar nyaris tidak sebagai manusia. Dengan sedih saya harus menyebutnya: budak! Entah petani, buruh angkut, atau keduanya—yang jelas bukan pejabatnya.
Lucunya, ia bangga. Seolah-olah murah adalah prestasi, bukan tanda darurat. Seolah-olah petani memang ditakdirkan hidup dari pujian dan tepuk tangan, bukan dari harga yang berkeadilan.
Musang King dimaki sebagai simbol ketimpangan. Padahal justru di sanalah petani kadang bisa bernapas: ada perawatan, ada pengetahuan, ada kesabaran, ada harga yang mengakui jerih payah. Mahal, ya. Karena kerja keras memang tidak pantas dibayar murah.
Negara punya banyak pegawai yang bangga pada harga murah, lalu bertanya mengapa petani tetap miskin. Itu mirip-mirip seperti dokter yang bangga demam pasiennya turun, setelah termometernya ia patahkan.
Jika durian lima ribu rupiah adalah kebanggaan, maka kemiskinan petani sesungguhnya bukan kegagalan—melainkan hasil dari kebijakan tak tertulis. Dan kementerian pertanian berubah fungsi: bukan menyejahterakan petani, tapi memastikan mereka tetap kuat hidup dengan sedikit.
Comments
Post a Comment