Sehari di Al-Ittifaq


Sesungguhnya, badan saya masih sangat letih karena baru kembali dari Purwokerto. Aktivitas di Purwokerto juga nggak santai, karena selama 10 hari harus kerja spartan memperbaiki naskah disertasi, dilanjutkan dengan mengikuti Munas Alumni Unsoed, yang salah satu acaranya adalah pemilihan Ketua Umum, dan saya menjadi salah satu kandidatnya.

Senin malam, sahabat saya yang kini aktif di MAI Foundation, pak Iwan Rudiyana mengontak untuk mengajak diskusi soal diaspora dan pengembangan pertanian. Saya iyakan. Lalu saya tanya, di mana?


Nah. Itu dia. Beliau sedang di pesantren Agribisnis Al-Ittifaq Ciburial, Bandung Barat. Ahaaaai lumayan jauhnya. 


Sudah lama mau ke sana, dan kesampaian. Paginya saya sudah di stasiun Woosh, Halim. Jam 6.40 sepur melesat, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya sampai di Padalarang. Perjalanan dilanjutkan dengan Gocar sekira 60 menit sebelum sampai ke pondok pesantren yang legendaris itu.


Seharian penuh kami berdiskusi segala rupa, mulai dari pesantren agribisnis, - yang digagas oleh KH Fuad Affandi, yang lebih suka dipanggil mang Fuad, Allah Yarham hingga bagaimana mengatasi tingginya angka pengangguran yang juga ikut ‘disumbangkan’ oleh pondok pesantren. Sudah ada ide juga untuk mengirim mereka belajar agribisnis yang lebih advance ke Jepang atau lainnya. Diskusi ini tambah gayeng karena kehadiran Gus Yakum dari Muaro Jambi.


Tak puas hanya di ruangan, kami juga berdiskusi di lapangan, sambil menengok hamparan lahan yang seolah tidak dijumpai lahan kosong. Ini seolah membuktikan salah satu qoute Kyai Fuad, ‘Jangan ada sejengkal tanah yang tidur, Jangan ada sedetik waktu yang nganggur, jangan ada sehelai sampah yang mawur’. Bukan hanya di lahan pesantren, bahkan di lahan-lahan milik masyarakat sekitar, nyaris tiada tanah sejengkalpun yang tidak dimanfaatkan.


Tidak mengherankan, puluhan ton sayuran dan buah mengalir dari desa ini ke sebuah grup pasar modern di negeri ini: Superindo. Setidaknya ada 60 jenis sayuran eksotis seperti horenso (bayam jepang), wortel Kuroda dan tomat cherry, serta aneka buah seperti melon Intanon, strawberry, jeruk Dekopon atau terong Belanda. 


Semua itu tak hanya jadi berkah untuk pesantren, tapi juga buat para santri yang ikut belajar pertanian, para pekerja yang umumnya juga alumni pesantren, serta para warga desa dan para mitra yang tersebar jauh hingga ke Jawa Timur.


Hal lain yang menarik perhatian saya adalah sejumlah organisasi yang tergerak dan berkontribusi di sini. Bank Indonesia, Mandiri Amal Insani Foundation, Medco dan juga Bank Syariah Indonesia. Yang bikin saya heran, saya tidak melihat jejak institusi yang paling otoritatif dalam pengembangan pertanian di republik ini, Kementerian Pertanian. Mbuhlah …


Comments