Ada kebaikan yang tidak membutuhkan banyak kata. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia memulainya.
Kita sering membayangkan sedekah sebagai sesuatu yang kecil dan personal: selembar uang yang dilipat, sebuah amplop yang diselipkan, tangan yang memberi tanpa suara. Itu mulia. Tetapi bagi seorang pemimpin, ada sedekah yang jauh lebih besar dari apa pun yang bisa keluar dari dompetnya.
Orang jarang bergerak karena seruan. Orang bergerak karena melihat. Ketika seorang pemimpin menunaikan kebaikan dengan tangannya sendiri, pesan yang sampai kepada orang-orang di sekitarnya lebih keras dari seribu pidato: kebaikan ini bukan hanya untuk dibicarakan, tetapi untuk dijalani.
Karena itu, kedermawanan seorang pemimpin tidak pernah benar-benar pribadi. Ia menjadi isyarat bagi banyak orang. Satu langkah yang dimulai dari atas sering kali membuka keberanian ratusan langkah di bawahnya.
Namun ada sedekah terbaik bagi para pemimpin, yaitu kebijakan.
Satu amplop untuk satu keluarga adalah kebaikan. Satu kebijakan yang berpihak pada banyak keluarga adalah kebaikan yang berlipat. Ia bekerja setiap hari, bahkan ketika penandatangannya sedang tidur. Ia terus mengalir ketika orang yang membuatnya sudah lama pensiun.
Umar bin Khattab memanggul sendiri sekarung gandum untuk keluarga yang kelaparan di malam hari. Kisah itu mengharukan. Tetapi warisan terbesarnya bukan karung itu, melainkan sistem yang ia bangun agar tak ada rakyat yang kelaparan tanpa terlihat: baitul mal, santunan, dan tata kelola yang menjamin hak mereka yang lemah. Karung gandum menyelamatkan satu malam. Sistem menyelamatkan satu peradaban.
Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Dalam kalimat itu, kepemimpinan bukan kehormatan, melainkan amanah yang akan ditanyakan. Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Ukurannya adalah manfaat, dan manfaat terluas lahir dari keputusan yang menyentuh banyak orang.
Niat baik yang tidak dilembagakan mudah padam. Ia bergantung pada suasana hati, pada momentum, pada ingatan yang bisa lupa. Pemimpin yang bijak tahu bahwa kebaikan perlu rumah: aturan, kebiasaan, dan tata kelola yang membuatnya tetap hidup tanpa harus menunggu seseorang tergerak.
Maka seorang pemimpin berpikir dua lapis: Apa yang bisa saya beri? dan Apa yang bisa saya bangun agar kebaikan ini terus memberi, bahkan ketika saya tidak ada?
Setiap pemimpin memegang pena. Dengan pena itu ia menandatangani anggaran, aturan, prioritas, dan arah. Ada dua cara memandang pena itu. Yang pertama, ia alat untuk mengamankan posisi. Yang kedua, ia alat untuk memperluas manfaat.
Kelak, yang ditanyakan bukan seberapa tinggi jabatan kita, melainkan siapa yang terbantu oleh tanda tangan kita. Apakah ada keluarga yang akhirnya bisa menyekolahkan anaknya, usaha kecil yang bertahan, atau pasien yang tertolong. Itulah sedekah yang pahalanya tidak berhenti ketika kita turun dari kursi.
Maka ajakannya, sesungguhnya ada dua. Yang pertama, berbuat baik dengan tangan sendiri, sebagai teladan. Yang kedua, jadikan setiap keputusan sebagai sedekah, dengan bertanya sebelum menandatangani: adakah ini memberi manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang?
Jika dua hal itu bertemu, kebaikan tidak lagi berhenti pada satu dermawan. Ia menjadi budaya, dan budaya menjadi peradaban.
Sebab pada akhirnya, kebaikan tidak membutuhkan banyak kata. Ia hanya membutuhkan seseorang yang bersedia memulainya, dan pemimpin adalah orang pertama yang ditunggu untuk memulai.

Comments
Post a Comment