Menilai Tan Malaka itu seperti menilai pisang goreng. Hangat, gurih, tapi entah kenapa selalu menyisakan sedikit rasa minyak jelantah yang terlalu pekat. Begitulah kira-kira Buya Hamka memandang pemikiran Tan Malaka—tak pernah tuntas di satu sisi saja. Sebagai ulama, Buya Hamka punya pijakan yang kokoh di atas agama. Sementara Tan, dengan gaya anak muda revolusioner, memutuskan untuk berdiri di atas tiga tiang yang ia namakan Materialisme, Dialektika, dan Logika. Kedengarannya gagah, bukan? Tapi coba tanyakan pada Buya Hamka, ia mungkin akan menjawab, “Kamu ingin berdiri di atas logika, tapi kaki manusiamu tetap menapak di tanah ciptaan Tuhan. Jangan lupa itu.”
Buya Hamka paham benar siapa Tan Malaka. Ia tidak sekadar membaca, tapi menimbang, memeras, hingga menyaring gagasan Tan seperti seorang pedagang kopi mencari biji terbaik. Hasilnya? Hamka mengakui, Tan adalah pemikir yang tangguh. “Jangan salah, logikanya tajam,” kata Hamka dalam salah satu diskusinya. Tapi Hamka, dengan senyum kecil khas ulama Minang, menambahkan, “Tajam, ya, tapi seperti pisau dapur yang diasah terlalu sering: malah makin licin, bisa terpeleset kena tangan sendiri.”
Tan Malaka memandang dunia ini dengan kacamata materialisme, bahwa segala sesuatu berasal dari materi dan harus dijelaskan oleh hukum-hukum alam. Buya Hamka, sebagai seorang yang hidup dari doa, dzikir, dan tasbih, tentu mengerutkan kening. Bukan karena takut, tapi karena kasihan. “Bayangkan,” pikir Hamka, “jika hidup ini hanya tentang materi, lalu apa gunanya Tuhan menciptakan matahari terbit di pagi hari atau suara burung di waktu subuh? Apakah semuanya hanya karena reaksi kimia? Tidak adakah nilai rasa dan makna di sana?”
Namun, jangan kira Buya Hamka menolak semua pemikiran Tan Malaka begitu saja. Oh, tidak. Beliau bukan tipe ulama yang takut pada gagasan berbeda. Justru Hamka berterima kasih pada Tan karena mengajarkan umat Islam untuk berpikir. “Umat kita,” kata Hamka, “kadang terlalu sibuk berdebat soal panjang jenggot tapi lupa memikirkan bagaimana membangun peradaban.” Madilog, meskipun tak sejalan dengan Islam, setidaknya menampar umat untuk bangkit dari kemalasan berpikir.
Tapi, tentu saja, Hamka tak akan sepenuhnya sepakat dengan Tan. Ada hal-hal yang bagi Hamka terlalu jauh melenceng. Dialektika Tan, misalnya, yang percaya bahwa kontradiksi adalah hukum alam dan bahwa segala sesuatu lahir dari konflik. Hamka, dengan senyum tenang, mungkin akan berkata, “Kalau benar begitu, kenapa Tuhan menciptakan perdamaian sebagai fitrah manusia? Atau apa menurut Tan, Nabi Muhammad harus berkonflik dulu dengan Jibril sebelum menerima wahyu?”
Kritik terbesar Hamka terhadap Tan Malaka adalah soal Madilog yang seolah mengabaikan dimensi spiritual manusia. Buya Hamka percaya bahwa manusia bukan sekadar otak yang berpikir, tapi juga hati yang merasakan. Tanpa ruh, kata Hamka, hidup ini seperti masakan tanpa garam: bisa dimakan, tapi tak ada rasanya. Dan begitulah pandangan Hamka terhadap materialisme Tan—terlalu kering, terlalu logis, terlalu mengabaikan sisi manusia yang paling manusiawi: kebutuhan akan Tuhan.
Namun, di balik semua itu, Hamka tetaplah Hamka. Ia bukan tipe orang yang akan menutup buku Tan dengan marah, membantingnya ke lantai, lalu melarang orang lain membacanya. Tidak. Sebaliknya, Hamka akan mengajak pembaca untuk memahami Tan dengan kepala dingin. “Bacalah,” katanya, “tapi jangan lupa bawa imanmu sebagai kompas. Karena tanpa itu, kamu bisa tersesat di hutan logika yang dibuat Tan.”
Pada akhirnya, Buya Hamka adalah ulama yang menghormati pemikiran, bahkan jika pemikiran itu melawan arus keyakinannya. Ia tidak takut pada logika, tidak gentar pada dialektika, dan tentu saja tidak benci pada Tan Malaka. Justru ia menganggap Tan sebagai pengingat: bahwa Islam tidak boleh terjebak dalam kebodohan. Tapi, sebagaimana pisau harus digunakan dengan hati-hati, begitu pula Madilog—tajam, tapi jangan sampai melukai iman.
Demikianlah, Tuan-Tuan. Kalau Tan Malaka membaca ini, mungkin ia akan tersenyum kecil sambil berkata, “Hamka, kamu benar. Tapi izinkan aku tetap berbeda.” Dan Hamka, dengan tenang, akan membalas, “Berbedalah, Tan. Tapi jangan lupa pada Tuhan.”
Comments
Post a Comment