Rahmat’ yang Meledak di Tengah Malam


Malam itu, hari kelahiran kanjeng Nabi dirayakan dengan penuh semangat dan suka cita. Pengeras suara dinyalakan, petasan dan kembang api dibakar selama beberapa menit, lalu dentuman pertama dan berikutnya pecah saat warga lainnya sudah tertidur. Waktunya memang sudah lewat tengah malam. Hari sudah berganti. Bayi-bayi terbangun dan menangis keras. Tampaknya ia belum paham bahwa mereka sedang larut menjadi bagian dari ‘syiar’.


Dentuman petasan di udara disambut tepuk tangan dan puji-pujian. Di rumah ujung gang, seorang bapak yang baru pulang kerja shift malam menatap langit-langit. Di rumah sebelahnya, seorang nenek yang sedang sakit menggenggam tasbih sambil berdoa agar dentum petasan ini cepat selesai. Tentu saja ia hanya bisa berdoa dengan khusyuk. Tidak ada pilihan lain.


Panitia puas. Kata mereka, ini bentuk cinta kepada Rasulullah. Betulkah itu cinta? 


Cinta kepada kanjeng Nabi memang boleh meluap-luap, tetapi sebaiknya jangan sampai mengganggu ketenteraman tetangga sekitar. Kalau itu terjadi, ada yang perlu dipertanyakan tentang implementasi cinta itu.


Mari kita bertanya dengan jujur: seandainya beliau kanjeng Nabi hadir di tempat perayaan itu, apa respon beliau?


Saya tidak bisa memastikan. Namun sejarah memberi petunjuk. Beliau pernah memperpendek shalat hanya karena mendengar tangis seorang bayi. Satu tangisan, di tengah jamaah, dan beliau menyesuaikan diri. Kalau tangis sekecil itu saja beliau perhitungkan, entah apa yang beliau rasakan di tengah deretan petasan pukul satu dini hari.


Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak menyakiti tetangganya. Hadis ini tidak mengenal disclaimer atau pengecualian "kecuali sedang ada acara". Tidak ada pula catatan bahwa niat baik menghapus bunyi dentuman yang keras dan bersahutan.


Dan ketika ditanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin, jawaban beliau sederhana: itu hari kelahiranku. Beliau memperingati hari lahirnya dengan diam, dengan lapar, dengan syukur. Tidak ada panggung, tidak ada sound system, tidak ada petasan. Mungkin itulah ironi terbesarnya: orang yang kelahirannya kerap kita rayakan, memilih cara paling sunyi untuk merayakannya sendiri.


Saya tidak sedang menggugat maulid. Membaca shalawat, mendengarkan kisah hidup beliau, bersedekah, dan berkumpul dalam cinta adalah hal yang indah. Yang saya gugat hanyalah satu hal kecil: mengapa kita merasa belum mencintai kalau belum gaduh atau berisik?


Pada akhirnya, ukuran cinta kepada seorang penebar rahmat bagi semesta alam mungkin sesederhana ini. Setelah perayaan usai, apakah tetangga kita tidur lebih nyenyak, atau justru merasa lebih lelah?


Kita bilang mencintai beliau. Ajarannya kita ikuti. Tetapi cinta yang membuat tetangga menutup telinga dengan bantal itu, sebenarnya sedang dipersembahkan untuk siapa: untuk beliau, atau untuk kita yang ingin terdengar?

Comments