Di sebuah ruangan yang penuh kitab kuning dan aroma teh panas, para ulama duduk melingkar. Jubah mereka berkibar perlahan saat kipas angin tua berdecit di langit-langit. Malam itu, mereka sedang membahas masalah-masalah besar, seperti apakah air liur anjing bisa membuat seseorang terjerumus ke neraka lapis ke tujuh atau tak ubahnya seperti memelihara kucing.
Lalu, datanglah seorang pria dengan kacamata akademisi dan senyum skeptis. Namanya Khaled Abou El Fadl. Ia duduk, menyeruput tehnya, lalu berkata dengan tenang, “Mengapa kita lebih takut pada anjing daripada pada kezaliman. Mengapa kita lebih takut makan daging babi daripada dosa korupsi?”
Sekejap, ruangan itu mendadak sunyi. Seseorang hampir tersedak kurma Medjool.
Abou El Fadl memang terkenal suka membuat gaduh. Bukan dengan teriakan, tapi dengan dalil yang menantang ‘akal sehat’. Selain membela anjing yang tak bersalah itu, ia juga berbicara tentang perempuan. Katanya, perempuan punya hak penuh untuk berbicara, memimpin, dan menentukan nasibnya sendiri. Di rumahnya yang asri, beliau memelihara anjing dalam jumlah yang cukup banyak.
Ada yang mengernyit. “Tapi, bagaimana dengan hadis ini dan ayat itu?”
Abou El Fadl tersenyum lagi. “Bagaimana dengan akal dan keadilan?”
Ia telah menelusuri banyak kitab-kitab klasik, lalu menemukan bahwa banyak tafsir dibuat dalam konteks yang penuh bias. “Jika Islam adalah rahmat, mengapa kita membatasi rahmat itu hanya untuk segelintir orang?” katanya. Kita terjebak pada teks tapi melupakan konteks, sambungnya.
Lebih jauh lagi, ia berbicara tentang demokrasi. Ya, demokrasi! Kata yang sering dianggap sebagai bid’ah modern. Bagi Abou El Fadl, Islam tidak bisa sekadar menjadi agama yang hanya mengatur rukuk dan sujud, tapi juga harus menegakkan keadilan. Jika seorang pemimpin bertindak zalim, rakyat harus berani berbicara.
Di titik ini, beberapa orang di ruangan itu mulai merasa gerah. “Apakah anda ingin menantang ulama-ulama besar?”
Abou El Fadl kembali tersenyum. “Bukan menantang, tapi mengajak berpikir.”
Mungkin inilah dosa terbesar Abou El Fadl: ia berani mengedepankan akal sehat dalam beragama. Ia membaca sejarah, membongkar teks, dan mempertanyakan tafsir yang sudah turun-temurun tanpa kritik.
Ia mengatakan bahwa Islam bukan agama yang hanya berisi peraturan-peraturan kaku tanpa jiwa. Islam adalah agama yang hidup, berkembang, dan menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan esensinya.
Dan di dunia yang semakin pelik ini, di mana sebagian orang lebih takut terkena jilatan anjing daripada melihat korupsi merajalela, mungkin kita memang butuh lebih banyak orang seperti Khaled Abou El Fadl—orang yang berani mengingatkan bahwa agama tanpa akal adalah seperti tubuh tanpa jiwa: mati, kaku, dan bau.

Comments
Post a Comment