Di negeri ini, guru dan dosen disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebutan yang terdengar agung, meskipun tak tercermin pada dompet mereka. Mereka bangun lebih pagi, menyiapkan bahan pembelajaran, lalu berangkat mengajar dengan sepeda ontel atau motor butut yang kerap harus didorong sebelum bisa melaju. Mereka mendidik anak bangsa, bahkan ketika anak didik itu lebih memilih menatap layar di aplikasi TikTok dibanding papan tulis. Ironisnya, negara cukup membalas semua itu dengan selembar piagam, puisi di upacara 17-an, dan jargon berdebu: pahlawan tanpa tanda jasa.
Jangan-jangan jargon itu memang dibuat dengan hati-hati. Tidak terlalu menyakitkan, tapi cukup untuk membuat mereka segan minta naik gaji. Sebab siapa pula pahlawan berpamrih yang menagih upah? Bahkan ketika guru membeli beras pakai PayLater, mereka tetap dianggap inspiratif—karena mampu bertahan hidup secara mandiri tanpa membebani orang tua siswa.
Sementara itu, di panggung lain, para pelawak dan bintang film menjalani dunia yang tampak sebaliknya: penuh warna, cahaya, dan tepuk tangan. Tapi jangan salah. Mereka juga bekerja keras. Pelawak harus membaca ritme penonton, menyusun kata dengan presisi, dan menciptakan tawa dari kecerdasan—bukan sekadar lelucon. Bintang film harus masuk ke dalam jiwa karakter, berdamai dengan lampu sorot, jam kerja panjang, dan tekanan publik yang tidak kenal jam kantor.
Namun, perbedaannya tetap mencolok. Pelawak, dalam satu kali tampil, bisa membawa pulang honor setara gaji guru selama tiga semester. Aktor sinetron bisa menangis di tiga episode dan pulang ke rumah mewah dengan ketinggian empat lantai. Sementara guru yang mengajarkan murid cara membaca, menulis dan berhitung justru harus mengecek saldo sebelum berbelanja. Tak jarang, ATMnya pun minta maaf karenanya.
Lebih ajaib lagi, pelawak dan aktor bekerja keras untuk terlihat santai. Guru dan dosen bekerja serius tapi dipaksa untuk terlihat ikhlas. Yang satu berusaha menyembunyikan keringatnya, yang satu lagi dianggap tak boleh menunjukkan cucuran peluhnya.
Lucunya, masyarakat pun lebih percaya pada dunia yang disunting. Mereka tahu nama semua artis yang kerap kawin cerai, tapi lupa siapa nama guru yang dulu mengajarinya mengeja huruf demi huruf. Seorang dosen bisa menerbitkan jurnal internasional dengan akreditasi Scopus Q1 tentang krisis ekonomi, tapi yang viral tetap selebritas yang menangis karena gagal liburan.
Tentu, kita tidak menyalahkan pelawak dan bintang film. Mereka menjalani profesi yang sah, yang menuntut kreativitas, stamina, dan kecerdasan sosial. Mereka juga korban dari sistem nilai yang mengangkat hiburan ke puncak, dan membiarkan pendidikan tergeletak di bawah panggung. Justru ironi ini menunjukkan: negeri ini begitu dermawan pada tawa, tapi pelit pada ilmu.
Maka jangan heran bila profesi di negeri ini terbagi dua:
Yang main-main tapi dibayar serius, dan yang serius tapi dibayar seperti sedang main-main.
Jadi jika suatu hari anak anda bercita-cita ingin menjadi guru, tanyakan ulang—dengan pelan, penuh kasih sayang—“Nak, kamu yakin mau jadi pahlawan? Atau kamu ingin dibayar?”
Karena di negeri ini, guru disebut pahlawan, tapi pelawak yang diberi panggung.

Comments
Post a Comment