Kail. Ikan. Paripurna


Orang-orang sering bilang, “Jangan kasih ikan, kasih kail.” Katanya, biar mereka belajar mandiri. Tapi pernahkah terpikir, bagaimana jadinya kalau si penerima sedang kelaparan? Mau disuruh makan kail, begitu? Apa mereka harus rebus dulu, atau digoreng pakai minyak? Kalau lapar, ya kasih ikan dulu, Mas! Ngisi perut itu prioritas, baru ngomong soal kail. Orang lapar suruh mikir belajar memancing, ya sama saja kayak suruh kucing belajar baca buku.

Tapi, ya, tidak berhenti di situ, toh. Setelah perut kenyang, baru orang bisa diajarin cara pegang kail, dan lanjut dengan praktek memancing. Tapi jangan lupa, memancing itu juga ada ilmunya, ada seninya, ada tekniknya. Kalau asal cebur kail ke air, yang ketangkap malah konde atau sandal jepit orang kampung. Jadi jangan sekadar kasih kail, kasih juga “buku panduan memancing bagi pemula.” Kalau bisa, disertai kursus singkat. Biar tidak ada lagi alasan, “Maaf, saya nggak bisa mancing, sebab belum pernah ikut seminar motivasi mancing.”


Tapi, eh, ada satu hal yang sering dilupakan orang-orang ini: ikan itu kan ada batasnya. Kalau semua orang pegang kail, lalu berlomba-lomba jadi pemancing ulung tanpa ada yang mikirin regenerasi ikan, ya habislah sudah. Air tinggal air, jaring kosong, kail bengkok, dan kita balik lagi saling sikut demi sepotong nasi aking. Jadi, selain kasih kail, ajari juga soal merawat populasi ikan di habitatnya. Sukur-sukur, ada yang mengawasi: mana ikan yang boleh ditangkap, mana yang masih di bawah umur. Jangan sampai kita terlalu ambisius mancing, eh anak ikan teri kita gasak juga.


Dan ini yang paling penting: jangan lupa, di balik danau yang luas, ada orang lain yang juga butuh makan karena belum kebagian ikan. Jangan mentang-mentang sudah kenyang duluan, terus kita pasang spanduk besar-besar, dan bikin aturan, “Hanya untuk pemancing berpengalaman.” Ingat, bung, ikan itu bukan cuma buat kita. Kita semua cuma numpang hidup, bukan pemilik danau atau sungai. Jadi, ayo berbagi. Kalau sudah kenyang, kasihlah kailnya ke orang lain, kasih tahu mana spot yang banyak ikannya. Jangan malah ngumpet-ngumpet sendiri sambil bilang, “Rezeki udah diatur.” Itu namanya rakus, bukan filsafat.


Jadi begini mestinya: kasih ikan buat yang lapar, kasih kail buat yang mau belajar, ajari mereka memancing, rawat ikannya biar kolam nggak kosong, dan terakhir, sadar diri: sumber ikan ini bukan cuma punya kita. Kalau semua itu diikuti, insyaAllah dunia jadi lebih damai. Kalau tidak? Ya, kita cuma akan jadi bangsa pemancing sandal di danau yang tandus. Selamat memancing!

Comments