Di dunia ini, ada empat jenis manusia: orang bodoh, orang pintar, orang licik, dan orang yang beruntung. Setiap jenis tidak selamanya bertahan dari awal hingga akhir. Masing-masing bisa berpindah, jadi lebih baik atau lebih buruk.
Awalnya tentu, kita semua ingin jadi orang pintar, karena mereka bisa mengungguli orang bodoh. Tapi apalah daya, otak kadang cuma cukup buat ingat password Wi-Fi.
Kata orang bijak, orang pintar masih bisa dikelabui oleh orang licik. Maka sebagian orang tergoda, dan berbelok jadi orang licik. Ini gampang. Cukup hilangkan empati, tambahkan senyum palsu, dan rajin-rajin main golf dengan pejabat. Dalam waktu singkat, licik pun jadi profesi yang menjanjikan, dengan bonus bebas antre dan salam tempel. Semua serba 86.
Tapi — nah ini dia, sodara-sodara — ternyata tiga jenis manusia yang sudah disebutkan di atas bisa dikalahkan oleh orang beruntung. Keberuntungan memang tidak punya KTP, tidak bisa dilacak Google Maps, dan tak bisa dipanggil pakai mantra “follow for follow”. Namun ketika datang, dia bisa membuat anak magang tiba-tiba melesat karirnya jadi manager atau direktur. Atau orang yang salah masuk ruang wawancara malah diterima kerja hanya gara-gara membereskan tempat sampah di ruang tunggu.
Keberuntungan ini betul-betul ajaib. Ia tak bisa ditebak. Ia datang tanpa permisi, dan pergi tanpa pamit. Mirip mantan, tapi lebih menyakitkan karena meninggalkan kita dalam ketakjuban dan tanya: “Kenapa bukan aku?”
Sesungguhnya, ada cara mengundang keberuntungan. Bukan dengan berdoa sambil megang buntut cicak atau menghitung suara tokek. Bukan pula dengan ikut pelatihan “Pemburu Rezeki, Quantum Jodoh” yang harganya setara sepeda motor bekas. Caranya lebih sunyi dan tidak Instagramable: lakukan kebaikan-kebaikan kecil, tanpa perlu dicatat di spreadsheet amal pribadi.
Berbuat baik? Ah, itu kata yang membosankan di zaman orang lebih tertarik jadi viral daripada jadi berguna. Tapi percayalah, kebaikan itu seperti surat cinta yang kita kirim ke semesta. Tak perlu ditandatangani, tak usah diberi perangko balasan. Nanti dia akan berbalas, dalam bentuk keberuntungan. Kadang dalam bentuk selamat dari sial besar, atau rezeki yang tidak disangka-sangka.
Sayangnya, kebaikan di zaman sekarang harus lewat banyak birokrasi. Orang mau menolong pun kadang mikir: “Apa nanti aku dikira pencitraan?” atau “Kalau aku posting bantu orang miskin, apa nanti engagement-nya naik?”
Kita telah terjebak dalam peradaban di mana kebajikan perlu pengesahan dari followers. Padahal, keberuntungan lebih menghargai kebaikan-kebaikan yang dilakukan diam-diam, di pojokan kehidupan, tanpa sorot kamera dan hastag #FeelingBlessed.
Maka kalau engkau merasa hidup sedang menghimpit, kalah pintar, kalah licik, dan bahkan kalah followers, jangan buru-buru patah arang. Teruslah berbuat baik, meskipun cuma menyisihkan gorengan terakhir untuk teman yang belum makan, atau menyapa satpam atau OB dengan penuh hormat.
Percayalah, alam semesta sedang mencatat dan berkata:
“Ini dia. Orang ini tidak bodoh, belum tentu pintar. Tapi jelas bukan licik. Dia pantas jadi orang beruntung.”
Kalau keberuntungan belum juga datang, jangan berkecil hati. Barangkali dia sedang antre menunggu saatnya tiba. Dia mungkin sedang menunggu kita benar-benar tak mengharapkannya — baru ia datang, dengan angin, hujan, dan kejutan-kejutan yang tak bisa direncanakan.
Bagaimana kalau tetap tidak datang juga? Yah, setidaknya kita sudah jadi manusia baik. Itu pun, kata orang bijak, sudah lebih dari cukup.

Comments
Post a Comment