Islam Minimalis


Di suatu sore yang cerah, seorang lelaki paruh baya masuk ke sebuah warung kopi. Ia duduk dengan santai, lalu mulai mendengarkan perbincangan di meja sebelah. Sekelompok orang tampak sedang berdiskusi serius tentang betapa rumitnya menjadi seorang muslim di zaman ini.

“Agar ibadah kita diterima, harus ikut thariqah yang benar,” ujar seseorang dengan wajah penuh keyakinan. 


“Jangan lupa, kalau mau masuk surga, selain puasa Ramadan, harus puasa Senin-Kamis, atau puasa Daud, dan kalau bisa tahajud tiap malam,” tambah yang lain, sambil menyeruput kopinya.


“Bukan cuma itu,” seorang lagi menyela. “Sekarang ini kalau tidak ikut kelompok tertentu, bisa-bisa dianggap kurang Islami. Harus punya guru, harus ikut kajian, harus begini, harus begitu.” “Mesti nyambung juga sanadnya sampai kanjeng Nabi,” ujar yang lain.


Lelaki paruh baya tadi, yang awalnya hanya mendengarkan, akhirnya angkat bicara. “Jadi, kalian sedang membahas cara masuk surga yang ribet?”


Mereka menoleh, agak terkejut. “Ya, kalau mau masuk surga, harus banyak amalan. Tidak cukup hanya shalat lima waktu dan puasa Ramadan!”


Senyum lelaki itu melebar. Ia mengambil napas sejenak, lalu berkata, “Kalian tahu tidak, pernah ada seorang badui yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia bertanya tentang amalan yang bisa membawanya ke surga. Nabi menjawab, cukup beriman kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya, dan mengerjakan ibadah yang wajib-wajib saja seperti shalat lima waktu, zakat, dan puasa Ramadan. Tidak lebih, tidak kurang. Lalu badui itu berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak akan mengurangi.’ Dan Nabi pun bersabda, ‘Barang siapa ingin melihat penghuni surga, lihatlah orang ini.’”


Mereka saling berpandangan, ada yang mengernyitkan dahi, ada yang sibuk mengaduk kopi tanpa minat.


“Tapi kan, kalau mau lebih sempurna, harus ada amalan tambahan?” tanya salah seorang dari mereka, setengah ragu.


“Tentu saja boleh. Silakan kalau mau puasa sunnah tiap hari, shalat sunnah seribu rakaat sehari semalam, atau baca Al-Qur’an sampai khatam bolak-balik sepuluh kali sebulan. Tapi jangan sampai kalian berpikir bahwa tanpa semua itu, seseorang otomatis gagal masuk surga,” jawab lelaki itu.


Salah satu dari mereka, yang tampaknya pemikirannya agak lebih fleksibel, akhirnya bersuara. “Jadi, Islam minimalis sudah cukup?”


Lelaki itu tertawa kecil. “Minimalis, tapi esensial. Nabi tidak menyuruh si badui melakukan amalan tambahan, tapi beliau juga tidak melarang jika seseorang ingin beribadah lebih banyak. Yang penting, jangan sampai kita sibuk dengan hal-hal sunah tapi melupakan yang wajib.”


Mereka terdiam. Percakapan berubah dari ketegangan ke refleksi.


Sang lelaki melanjutkan, “Islam melarang umatnya melakukan berbagai hal yang berlebihan. Bahkan ibadah yang berlebihan pun ditegur. Makan secukupnya saja, mewakafkan harta tidak boleh sampai membuat keluarga terlantar. Bahkan dalam ibadah, Nabi menegur seorang sahabat yang ingin shalat sunnah sepanjang malam dan puasa sunnah setiap hari, lalu berkata, ‘Tubuhmu punya hak, keluargamu punya hak atasmu.’


Mereka mulai berpikir. Seorang dari mereka mencoba mengajukan argumen terakhir, “Tapi bagaimana kalau shalatnya cepat-cepat, kan kurang khusyuk?”


Lelaki itu tersenyum lagi. “Nabi tidak pernah menegur orang yang shalatnya secepat kilat, tapi justru menegur imam yang shalatnya terlalu lama. Karena di belakangnya ada orang tua, ada yang sedang sakit, ada yang punya kesibukan lain.”


Di warung kopi itu, aroma kopi bercampur dengan pemikiran yang mendalam. Bisa jadi, Islam sesungguhnya memang lebih mudah dari yang mereka kira.


Lelaki itu lalu berdiri, membayar kopinya, dan sebelum pergi, ia berkata, “Ingat, jangan sampai Islam yang sederhana tapi esensial ini kalian buat ribet sendiri. Minimalis bukan berarti asal-asalan, tapi fokus pada yang utama.”


Lalu ia melangkah keluar, meninggalkan sekelompok orang yang kini sibuk merenung, mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.

Comments