Ingat Terus atau Lupakan?


Seorang guru dan seorang muridnya, sedang dalam perjalanan yang lumayan jauh. Setelah beberapa lama berjalan, sampailah keduanya di tepi sungai yang harus mereka seberangi. Sebelum menyeberang, mereka menjumpai seorang perempuan dengan pakaian ala kadarnya, yang juga ingin menyeberang. Aliran sungai yang cukup deras, membuat sang perempuan takut menyeberang sendirian. Tanpa banyak pikir panjang, sang guru menawarkan untuk menggendong sang perempuan tadi.

Singkat cerita, ketiganya sampai di seberang sungai. Usai mengucapkan terima kasih, sang perempuan itu memilih jalan berbeda, dan mereka pun berpisah. Sang guru dan muridnya melanjutkan perjalanan. 


Beberapa hari kemudian, sang guru dan muridnya pun sampai di tempat tujuan. Sambil beristirahat, sang murid mengeluarkan uneg-unegnya.


‘Maaf Guru. Beberapa hari lalu, Guru menggendong seorang perempuan berpakaian minim, untuk menyeberangi sungai. Mengapa Guru melakukannya?’


‘Muridku. Perempuan itu sudah kita tinggalkan beberapa hari lalu. Tidak ada kejadian apa pun setelah itu, kecuali kita sudah membantunya menyeberang sungai yang deras airnya. Aku pun sudah melupakannya. Mengapa kau masih menyimpannya di dalam hati dan kepalamu?’


Betapa banyak di antara kita, yang masih menyimpan dan memikirkan ucapan orang lain, sekali pun mungkin orang tersebut sudah melupakannya. Bukan cuma menyimpan atau memikirkannya, tapi sekaligus membahasnya berhari-hari lamanya secara online maupun offline, termasuk menyinyirinya di sosial media.


Agaknya, benar juga apa yang pernah disampaikan pak Jusuf Kalla, - spesialis wakil presiden periode pertama dari dua orang presiden republik. Di negeri ini, segala hal dibicarakan, kecuali hal-hal yang penting!

Comments