Menarik mendengar cerita sahabat yang baru kembali dari Norwegia. Konon, negeri dengan kualitas pendidikan terbaik sejagat itu telah menerapkan pendidikan critical thinking pada level pendidikan dasar. Ini adalah cara pemerintah negeri itu dalam upaya menangkal berita hoax yang menjadi ancama besar bagi dunia.
Bagaimana dengan Indonesia?
Rupanya, sekalipun pernah punya menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang memiliki latar belakang dunia IT yang kental, -sekaligus tahu persis berapa banyak berita hoax yang bertebaran di dunia maya sekaligus bagaimana dampak negatifnya, tetapi hingga orang tersebut diganti dan kini masuk tahanan akibat tuduhan korupsi, kita belum tergerak untuk membentengi anak-anak Indonesia dengan cara berpikir kritis yang kokoh.
Jadilah kita seolah membiarkan begitu saja, anak-anak kita ‘mengonsumsi’ apapun dari gadgetnya, tanpa bekal pengetahuan yang cukup. Ini juga diperparah dengan perilaku sebagian besar dari kita yang dengan sukarela menjadi clicktivist: menjadi tukang klik atas berita-berita yang belum tentu benar, tapi sungguh cocok dengan pilihan dan suasana hati. Tak perlu baca seluruhnya, cukup baca judul. Kalau oke, klik like dan share!
Jadilah negeri ini semakin komplit plit. Orang tua memberi ‘teladan’ buruk kepada anak-anaknya, untuk menjadi penerus clicktivist. Mau tahu akibatnya? Amerika pernah mengalaminya, ketika Pemilu mereka menghasilkan Donald Trump sebagai Presiden. Jutaan (bukan ratusan ribu seperti diungkap FB) data pengguna Facebook yang dijual ke Cambridge Analitica, berhasil diungkap Mariana Mazzucato.
Semoga, - walau tanpa inisiatif pemerintah cq Komdigi yang lebih care dengan balik nama atas jual beli hape bekas daripada memberantas judi online, kita bisa membentengi diri dan keluarga kita dari dampak negatif itu. Caranya, sederhana. Sudah juga dibeberkan kiatnya di mana-mana. Saring dulu sebelum sharing!
Comments
Post a Comment