Deforestasi. Kelapa Sawit


Ini adalah sebuah cerita tentang kelapa sawit, sang ‘penantang’ yang mulai merebut mahkota dari hutan, penguasa lama. Seperti semua cerita perebutan kekuasaan, ada drama, ada korban, dan tentu saja ada yang diuntungkan.

Kelapa sawit, datang membawa janji kemakmuran. “Aku bisa jadi apa saja,” katanya percaya diri. Minyak goreng, sabun, kosmetik, hingga bahan bakar. “Aku akan membuat rakyat kenyang, sekaligus bersih, dan cantik,” begitu ia bisiknya ke pengambil keutusan. Siapa tidak tergoda?


Di balik senyumnya, emas hijau ini punya sisi gelap. Dia harus menyingkirkan hutan, penguasa lama yang selama ini menjadi penjaga ketenteraman penduduk bumi dengan menyimpan karbon, menyediakan oksigen, melindungi tanah, dan menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai makhluk yang punya hak hidup tapi tak bisa ikut pemilu.


Datanglah para penggundul hutan bersenjatakan alat berat, dan juga api yang dalam waktu singkat mengubah hutan jadi lahan yang siap ditanami, -antara lain kelapa sawit. Kayu-kayu hasil tebangannya mempertebal saldo rekening. Aneka satwa hutan turun ke kampung, merusak segala sampai hilang nyawa karena dianggap mengganggu masyarakat. 


“Tidak apa-apa, toh kelapa sawit juga punya daun, bisa menyerap karbon.” Itu benar. Tapi, ketahuilah, serapan karbonnya cuma secuil dibanding karbon yang dilepaskan saat hutan ditebasi. Ibaratnya, kita menambal lubang kapal Titanic dengan bekas kunyahan permen karet.


Belum lagi soal lahan gambut. Ini adalah celengan raksasa penyimpan karbon. Begitu dirusak, ia seperti monster yang melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, jauh lebih besar dari apa yang bisa diserap sawit dalam seratus tahun. Sialnya, situasi nyaris tidak bisa dipulihkan seperti sedia kala. Ini mirip membakar rumah untuk memasak sepanci nasi.


Di balik itu, kelapa sawit juga membawa banyak manfaat nyata: pekerjaan bagi jutaan rakyat, mengisi kas negara, dan menyokong ekonomi daerah. Banyak petani bergantung hidup pada kelapa sawit. Pedagang gorengan mengasapi dapurnya dari minyak sawit. Kelapa sawit benar-benar pahlawan bagi mereka.


Jadi, apa solusinya? 


Ada jalan tengah yang bisa ditempuh. Kelapa sawit harus berhenti menjadi penakluk dan belajar menjadi mitra. Perluasan lahan harus dihentikan, teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, dan praktik berkelanjutan harus menjadi standar tanpa basa-basi.


Keberadaan hutan harus dipertahankan, sebagai cadangan karbon, dan juga simbol kebanggaan. Jangan ganti logo Kementerian Kehutanan dengan gambar pokok kelapa sawit. Jangan sampai anak cucu kita hanya mengenal hutan dari buku cerita atau museum.


Pada akhirnya, ini bukan soal siapa yang lebih dominan, kelapa sawit atau hutan. Ini tentang bagaimana keduanya bisa hidup berdampingan, seperti dua mahkota hijau yang sama-sama menjaga keseimbangan bumi kita. Seperti kata pepatah lama: “Hijau yang sejati adalah hijau yang menyelamatkan, bukan yang menyingkirkan.”

Comments