Sudah puluhan dekade lebih kita berkhutbah tentang dahsyatnya wakaf sumur Utsman bin Affan, agungnya Al-Azhar di Mesir, dan romantisnya kisah saudagar Aceh yang mewakafkan hotel di tanah suci. Tiga legenda itu kita dendangkan seperti lagu wajib nasional di setiap seminar, khutbah Jumat, dan rapat tahunan lembaga. Seakan-akan, dengan menyebut nama-nama itu saja, keberkahan auto-default turun dari langit tanpa perlu menyentuh bumi.
Kita begitu fasih mengutip sejarah dan menyerap gagasan. tapi entah kenapa selalu gagap ketika harus menulis bab berikutnya: implementasi. Wakaf masih jadi dongeng klasik — penuh moralitas, minim realisasi. Padahal kalau diukur dari jumlah lembaga, peraturan, dan forum diskusi, kita sudah pantas bikin “Wakaf Expo” tahunan lengkap dengan spanduk bertuliskan: “Menuju Indonesia sebagai Pusat Wakaf Dunia.” Sayangnya, yang jadi pusat baru sebatas pusat dokumentasi gagasan dan nostalgia reuni.
Dua puluh tahun lewat, Badan Wakaf Indonesia — yang diharapkan menjadi “Utsman bin Affan” versi kelembagaan — baru punya satu rumah sakit yang bisa dibanggakan: RS Ahmad Wardi. Itu pun, kalau disebut “ikon”, masih lebih sering jadi contoh dalam presentasi ketimbang inspirasi dalam replikasi. Banyak yang mengaku ingin membuat “RS Ahmad Wardi kedua”, tapi baru sampai tahap studi banding — yang biasanya diakhiri dengan foto bersama, bukan dengan pembangunan.
Kita masih rajin menulis visi besar tentang “menghidupkan potensi wakaf nasional”, sambil berdebat di forum: wakaf uang boleh nggak sih buat beli tanah?; wakaf produktif itu yang beranak-pinak atau yang dipinang donaturnya?; dan pertanyaan klasik: siapa yang jadi nazhir, kalau semua mau jadi pembicara? Sementara di Mesir, Al-Azhar sudah ratusan tahun hidup dari hasil kebun kurma, toko buku, dan asrama mahasiswa. Di sini, kita baru punya kebun narasi, ladang wacana, dan sawah rencana.
Di Aceh, wakafnya para saudagar sudah menetap di tanah suci. Di sini, wakafnya para pejabat masih menginap di meja birokrasi — lengkap dengan materai, paraf, dan laporan setebal tafsir Al-Maraghi. Wakaf di negeri ini sering lebih disibukkan dengan niat baik daripada hasil nyata. Kita menganggap rapat koordinasi itu bentuk ibadah, dan niat menulis blueprint dianggap setara dengan mewujudkannya.
Mungkin memang inilah wajah wakaf versi lokal: wakaf semangat, bukan wakaf aset. Kita mewakafkan cita-cita menggelegak, lalu berharap ada, — entah siapa, yang akan menunaikannya. Dan sementara itu, seminar tentang “kebangkitan wakaf produktif” terus digelar dengan dana dari negara — setiap tahun, di hotel berbintang, yang tentu saja bukan hasil wakaf.
Comments
Post a Comment