Tuhan Maha Tertib


Di awal penciptaan semesta, Tuhan tidak menciptakan kekacauan. Ia menciptakan malam, siang, matahari beserta seluruh tata surya, lengkap dengan sistem gravitasi yang presisi. Matahari tidak pernah bolos, bulan tak pernah main-main ganti jadwal. Bumi mengelilingi matahari dengan setia, seperti satpam ronda keliling kompleks dengan jadwal ceklok absen di beberapa sudut.

Semuanya tertib.


Hanya manusia yang—entah mengapa—bangga hidup dalam semrawut. Contohnya? Mari kita tanya pada para senior yang pernah naik kereta api zaman dulu. Sebelum naik, mesti siapkan mental. Karena ini bukan perjalanan, ini gladi resik menuju kiamat.


Dulu, orang masuk stasiun seperti ikut festival dadakan. Siapa saja boleh masuk: penumpang, calo, copet, porter atawa para pengantar. Percaya atau tidak, jumlah penumpang hampir selalu lebih banyak dari kapasitas tempat duduk. Tiket bisa dibeli resmi, tapi lebih praktis beli dari calo yang pakai baju tak resmi tapi punya kuasa lebih besar. Harga tiket bisa dinego. Nomor kursi bisa dijual dua kali. Dan siapa cepat, dia dapat—yang lambat, ya berdiri sambil berdoa AC-nya hidup (tenang, semua akan indah, padahal tidak).


Pegawai KAI waktu itu seperti pegawai restoran yang kekurangan sendok— selalu minta maaf dan selalu kehabisan solusi. Maklum, Gaji mereka cukup untuk sekadar mengingatkan bahwa hidup itu berat. Maka tak heran kalau ada yang mencari “uang tambahan” dari saluran yang tidak diajarkan di pelatihan-pelatihan perusahaan, misalnya menagih bayaran pada para penumpang gelap. Kereta datang terlambat, —seperti kata Iwan Fals, itu biasa.


Dan perusahaan?


Oh, perusahaan ini ibarat orang tua yang tahu anaknya bandel,

tapi malas marah karena sudah terlalu capek. Pendapatan cekak, dan selalu jadi beban APBN.


Sampai kemudian datang satu orang yang konon katanya tidak bisa senyum: Ignasius Jonan.


Jonan datang bukan dengan salam pembuka, tapi dengan teguran yang bikin meja-meja ikutan bergetar. Beliau tidak mengajak kompromi, tapi mengajak DISIPLIN—pakai huruf kapital dan suara tinggi.


Calo dikejar, toilet dibersihkan,

AC dinyalakan, dan kereta dipaksa tepat waktu. Yang dulu biasa duduk di atas bordes, sekarang disuruh turun.

Yang dulu punya “orang dalam,” sekarang harus lewat loket luar. Jumlah copet pun menurun drastis.


Jonan membuat banyak orang tak nyaman. Tapi keteraturan memang tidak dirancang untuk membuat para pembelot sistem tersenyum. Keteraturan dirancang untuk membela mereka yang selama ini dirugikan— yang beli tiket resmi tapi harus berdiri, yang masuk stasiun pagi tapi sampai tujuan entah kapan.


Lucunya, begitu semuanya diatur, pendapatan perusahaan malah naik. Gaji pegawai ikutan naik. Citra perusahaan semakin naik. Hanya calo, copet dan pelaku pungli yang gigit jari—sembari bilang, “Ah, keterlaluan! Sekarang cari makan makin susah.”


Jonan, dengan gaya khasnya yang seperti guru matematika tua, membuktikan satu hal penting: bahwa bangsa ini bukan tidak bisa tertib, cuma belum pernah dimarahi dengan serius.


Kini, orang bisa beli tiket dari HP,

datang ke stasiun tanpa waswas, dan sampai tepat waktu tanpa perlu mencium bau jempol penumpang lain.


Semua karena satu orang nekat yang menganggap keteraturan itu bukan dosa. Dan disiplin bukan kekejaman. Disiplin adalah obat, pahit rasanya tapi menyembuhkan.

Comments