Tugas Pro Bono dan Tabungan yang Tak Kasat Mata


Di tengah diskusi hangat di kampus soal dunia publikasi ilmiah, muncul satu topik yang cukup memancing perdebatan: peran reviewer jurnal yang ternyata, di luar dugaan banyak orang, adalah pekerjaan pro bono alias tanpa bayaran. Padahal, banyak jurnal mengenakan biaya publikasi kepada penulis, atau menetapkan tarif langganan yang tidak murah bagi pembaca.


Tak sedikit yang berkomentar, “Ini tidak fair.” Dan saya bisa memahami itu.


Namun, saya memilih untuk tetap menjalaninya. Sampai pertengahan tahun ini saja, saya telah menjadi reviewer bagi lebih dari sepuluh artikel ilmiah di bidang CSR dan pemberdayaan masyarakat—dua ranah yang memang saya tekuni, di beberapa jurnal terindeks Sinta (nasional) maupun Scopus (internasional). Tak ada kontrak, tak ada honor. Tapi justru di situlah saya merasa menjadi bagian dari ekosistem keilmuan yang sehat, yang dibangun bukan semata-mata transaksional, tapi juga tanggung jawab dan pengabdian.


Saya percaya, tidak semua pekerjaan harus dibayar. Ada pekerjaan yang kita lakukan dengan niat memberi, karena kita sadar bahwa ilmu pengetahuan tumbuh dari gotong royong intelektual. Menjadi reviewer adalah satu bentuk kontribusi saya, sebagai balasan atas kebaikan-kebaikan serupa yang dulu saya terima saat mengirimkan artikel saya ke jurnal lain.


Dan lebih dari itu, saya percaya bahwa pekerjaan pro bono ini adalah tabungan—bukan dalam bentuk materi, tapi dalam bentuk kebaikan hidup yang tak kasat mata. Ia bisa kembali dalam bentuk kepercayaan, reputasi, jaringan akademik, atau bahkan dalam bentuk keberuntungan yang datang pada waktu yang tak terduga. Bukan tidak mungkin, di tengah kesulitan, jalan keluar hadir sebagai “dividen” dari tabungan kebaikan itu.


Tentu, manfaat langsungnya pun tak sedikit. Saya berkesempatan untuk membaca dan mempelajari banyak karya terbaru dari peneliti-peneliti lain. Itu adalah akses ilmu yang sangat berharga. Bahkan, di beberapa jurnal, saya mendapatkan akses gratis untuk mengunduh artikel-artikel terbitan mereka, sesuatu yang kalau dibeli secara mandiri bisa menghabiskan dana besar. Bagi saya, ini adalah bonus pengetahuan yang tak ternilai, yang kerap memunculkan ide riset.


Kita hidup di zaman yang kerap menilai segala sesuatu dari nilai tukar rupiah atau dolar. Tapi saya memilih untuk tetap yakin, bahwa ada nilai lain yang lebih tinggi: nilai kontribusi, pengabdian, dan keberkahan.


Karena pada akhirnya, tidak semua hasil harus terlihat. Tidak semua tabungan harus bisa dicairkan dalam bentuk uang. Ada yang kembali dalam bentuk ketenangan hati, keluasan rezeki, atau keselamatan yang tak kita sangka.


Dan semua itu, sering kali berasal dari niat baik yang kita tanam dalam senyap.


Comments