Tabungan Kebaikan dan Para Pemerhati Absen


Di sebuah negeri yang jam kerjanya lebih dipatuhi daripada azan maghrib, sedang marak ajakan revolusioner: “Bekerjalah sesuai kontrak!” Jangan lebih. Jangan inisiatif. Jangan sok rajin. Biar hidup seimbang, katanya. Seimbang antara jadi karyawan dan jadi pemalas berjadwal.


Ajakan ini viral. Disukai. Dibagikan. Didoakan agar jadi budaya kerja nasional. Alasannya masuk akal: memberi lebih belum tentu dihargai. Salah bos, bisa dicap penjilat. Salah waktu, malah dibilang cari muka. Jadi, daripada salah, mendingan rebahan saja di balik meja, sambil menunggu jam pulang dengan penuh iman dan ketakwaan.


Tapi saya—maafkan saya yang kuno ini—masih percaya bahwa kerja lebih adalah tabungan kebaikan. Bukan di bank konvensional. Bukan pula di koperasi simpan pinjam. Tapi di lembaga tak kasatmata bernama kehidupan. Satu-satunya lembaga yang tak pernah bangkrut, walau direksinya tak pernah kita lihat.


Pernah ada seorang pelamar kerja. Ia datang rapi, rambut klimis, wajah dengan riasan tak berlebihan tapi niatnya luhur. Saat menunggu giliran wawancara, ia melihat tempat sampah di ruang tunggu berantakan. Mungkin karena angin. Mungkin karena kebiasaan manusia membuang rasa malu bersamaan dengan bungkus kopi sachet. Si pelamar tadi, tanpa menunggu instruksi, merapikan sampah itu.


Ia tak tahu, CCTV sedang bekerja. Dan HRD yang menyaksikan adegan itu langsung berkata, “Tak usah wawancara. Ini orang sudah lulus dengan nilai kehidupan tertinggi.” Dan diterimalah dia sebagai karyawan, tanpa tes tulis, tanpa pertanyaan jebakan, tanpa drama kenapa warna langit biru.


Itu contoh tabungan kebaikan yang cair secara tunai, lengkap dengan bonus tahunan: respek dari atasan dan gaji bulanan yang tak pernah telat.


Tapi ya, hidup tak selalu semurah itu. Kadang tabungan kebaikan perlu waktu sebelum bisa dicairkan. Harus menunggu bertahun-tahun. Kadang cair dalam bentuk kesempatan yang datang tiba-tiba, atau pertolongan dari orang yang bahkan tidak kita kenal, tapi rupanya pernah jadi saksi diam atas kerja keras kita di masa lalu.


Yang jelas, tabungan itu tidak pernah hangus, tak kena biaya administrasi, tidak seperti pulsa dari operator yang tak punya hati nurani.


Jadi silakan saja mau kerja sesuai kontrak, asal sadar: kita sedang hidup di dunia, bukan di mesin absen. Di dunia, niat baik dan kerja lebih akan menemukan jalannya sendiri. Meskipun tidak cepat, walaupun tidak viral.


Dan jika nanti hidup bertanya: “Apa yang kau kerjakan selama ini?” — kita bisa menjawab, dengan tenang, “Saya bekerja lebih, bukan untuk bos. Tapi untuk diri saya sendiri. Dan untuk Tuhan, yang CCTV-nya tak pernah berhenti merekam.”

Comments