Sekali Lagi Soal Keteraturan


Saya tidak pernah membayangkan akan duduk di kelas Otto Scharmer di MIT Sloan, Boston. Lelaki yang bukunya saya baca berulang kali, yang pemikirannya sedikit meresap ke dalam cara saya memimpin, cara saya mengajar, bahkan cara saya melihat diri sendiri yang — jujur saja — tidak selalu menyenangkan untuk dilihat. Dan kini saya dalam perjalanan menuju kelasnya, melewati Jepang. Sesungguhnya saya lebih suka transit di Abu Dhabi, Dubai atau Qatar, tapi situasi Timur Tengah yang belum aman membuat saya lebih memilih jalur yang lebih bersahabat.

Transit di Jepang bukan sekadar jeda perjalanan. Ia menjadi cermin. Dan cermin, seperti yang kita tahu, hanya menyajikan gambar apa adanya. Tidak bisa diajak berkompromi.

Tahun 1945, dua kota di Jepang — Hiroshima dan Nagasaki — musnah dalam hitungan detik. Ratusan ribu jiwa melayang. Tidak ada yang lebih brutal dari bom atom sebagai cara mengakhiri perang. Peradaban mereka tidak sekadar kalah. Mereka hangus, hancur lebur.

Tahun yang sama, Indonesia merdeka.

Dua bangsa. Titik awal yang hampir bersamaan. Bedanya, Jepang bangkit dari abu. Kita bangkit dari pidato.

Saya tidak bermaksud meremehkan pidato. Pidato itu penting. Kita bahkan sangat berbakat dalam hal ini — menyusun kalimat yang megah, merancang visi yang memukau, membuat regulasi yang komprehensif. 

Yang agak kurang kita kuasai adalah babak berikutnya: melaksanakannya. Tapi itu soal teknis. Kita bisa bahas nanti. Atau lusa. Atau setelah rapat koordinasi berikutnya.

Ketika saya berdiri di peron stasiun kereta Jepang sambil menenteng koper karena harus berpindah gate, kereta datang tepat waktu. Tidak ada suara klakson mobil di jalan-jalan. Tidak ada orang yang menerobos antrean. Bahkan cara orang berjalan pun terasa seperti koreografi yang tidak pernah sengaja mereka latih, tapi entah bagaimana sudah tertanam dalam.

Saya berdiri di sana, dan tiba-tiba saya malu.

Bukan malu pada Jepang. Tapi malu pada kita. Karena kita bukan tidak tahu aturan. Kita sangat tahu. Kita hafal aturannya, kadang sampai bisa mengutip pasal dan ayatnya dengan fasih — terutama ketika aturan itu berguna untuk orang lain. Untuk diri sendiri, kita biasanya menemukan pengecualian yang sangat masuk akal.

Jepang bangkit dari abu bom atom bukan semata karena teknologi atau bantuan luar negeri. Mereka bangkit karena memilih keteraturan sebagai fondasi peradaban baru mereka. 

Bukan keteraturan karena takut dihukum. Tapi keteraturan karena percaya bahwa itulah satu-satunya jalan menuju negeri yang bermartabat.

Ini bukan sekadar urusan lampu merah dan antrean bus. Ini soal sunnatullah — hukum semesta yang tidak bisa ditawar, tidak bisa dinegosiasikan, dan tidak mengenal surat rekomendasi. Bulan mengelilingi bumi. Bumi mengelilingi matahari. Semuanya bergerak dalam orbitnya masing-masing tanpa saling berbenturan — bukan karena dipaksa, tapi karena itulah tatanan yang menjaga semuanya tetap hidup. Bayangkan kalau bumi tiba-tiba memutuskan untuk melanggar orbitnya dengan alasan kedaulatan nasional.

Scharmer mengajarkan bahwa krisis terbesar bukan di luar sana. Ia ada di dalam — dalam kebutaan kolektif kita terhadap apa yang sesungguhnya sedang terjadi. Kita sibuk memperbaiki gejala dengan semangat yang luar biasa, sementara akarnya terus tumbuh lebih dalam dengan tenang dan tekun.

Mungkin akar dari semua itu adalah: kita belum benar-benar percaya bahwa keteraturan adalah kehormatan, bukan beban. Kita masih menganggap antre itu pilihan. Bahwa aturan itu saran. Bahwa hukum itu — tergantung situasi.

Saya tiba di Cambridge, Boston dengan membawa satu pertanyaan yang belum terjawab: seberapa besar kesadaran yang harus berubah dalam diri kita, sebelum Indonesia benar-benar berubah?

Jepang sudah menemukan jawabannya. Dengan cara yang paling menyakitkan yang bisa dibayangkan manusia.

Kita masih punya pilihan untuk belajar dari mereka — tanpa harus merasakan dulu bom yang sama. Selama kita mau belajar. Dan selama kata belajar itu tidak kita artikan sebagai menghadiri seminar lalu pulang dan tidak mengubah apapun.



Comments