Refleksi Pembelajaran

Menutup masa perkuliahan tahun ini, kami merasa perlu berhenti sejenak—bukan untuk menguji apa yang telah dihafal, melainkan untuk merenungkan apa yang telah dipahami dan dihidupi. Sejak awal, kelas Business Ethics, CSR & Sustainability kami rancang dengan sebuah pilihan sadar yang mungkin terdengar tidak lazim, bahkan kontroversial: tanpa ujian tertulis. Bagi kami, etika dan keberlanjutan bukanlah soal menjawab pertanyaan dengan benar, tetapi soal mengambil keputusan dengan bertanggung jawab.


Sebagai gantinya, kami mempercayakan proses belajar pada tugas personal dan projek kelompok. Karya-karya itulah yang menjadi cermin pemahaman mahasiswa. Lebih jauh lagi, kami menyerahkan penilaiannya kepada para praktisi—orang-orang yang setiap hari bergulat dengan dilema nyata di dunia bisnis. Dalam skema ini, sesungguhnya bukan hanya mahasiswa yang dinilai. Kami, para dosen, ikut dipertaruhkan. Ketika karya mahasiswa diapresiasi, itu adalah pantulan dari proses pembelajaran yang berjalan. Ketika sebaliknya terjadi, itu menjadi pengingat untuk terus berbenah.

 

Pilihan pendekatan ini lahir dari pengalaman panjang kami bekerja di level akar rumput, mendampingi masyarakat untuk memahami dan mempraktikkan keberlanjutan. Dari sana kami belajar bahwa perubahan tidak lahir dari slogan, melainkan dari kesadaran dan keberanian untuk bertindak. Ketika pengalaman itu kami bawa ke ruang kelas Magister Manajemen, kami sesungguhnya sedang memindahkan medan perjuangan: dari komunitas ke dunia profesional.


Kami meyakini, mengajar para mahasiswa—yang kelak akan menjadi pengambil keputusan dan pemimpin bisnis—adalah bentuk dakwah keberlanjutan dengan spektrum yang jauh lebih luas. Jika nilai-nilai etika dan keberlanjutan bersemayam dalam cara berpikir dan cara mengambil keputusan mereka, maka dampaknya akan melampaui satu perusahaan, satu industri, bahkan satu generasi.

 

Dan di penghujung hari, kami menutup perkuliahan ini dengan sebuah ritual kecil yang barangkali sederhana, terjaga selama hampir satu windu namun sarat makna: makan durian bersama. Kami membawa durian ke ruang terbuka, membukanya, dan menikmatinya dalam kebersamaan. 


Tidak ada hierarki, tidak ada dosen atau mahasiswa—yang ada hanyalah manusia yang duduk sejajar, berbagi rasa, berbagi cerita, dan berbagi tawa. Bagi kami, inilah wajah lain dari keberlanjutan: kedekatan, kesederhanaan, dan rasa cukup.

 

Akhirnya, perkuliahan ini kami tutup dengan sebuah harapan sederhana namun mendasar: semoga kelas ini tidak berhenti sebagai mata kuliah, melainkan menjadi bekal nilai dalam perjalanan profesional kalian. Karena kami percaya, bisnis bukan sekadar mesin pertumbuhan ekonomi. Ia adalah senjata paling efektif untuk menghadirkan kebaikan—bagi manusia, bagi masyarakat, dan bagi seluruh alam.

 

Terima kasih telah berjalan bersama kami sepanjang proses ini. Perjalanan sesungguhnya justru baru saja dimulai. Kepada para panelis yang bersedia hadir secara sukarela, mas Final Prajnanta, mas Nurul Iman, mbekayune @Rahmawati Winarni, mas Koko Susetio, mbak Ita S.Mucharam, Sonny Sukada dan mas @Beni Mind.Id, kami  mengucapkan terima kasih banyak. Tabik!

 

Comments