(Tulisan lama, tapi masih relevan)
Sudah dua hari kami berada di Kupang, menyatu dalam sebuah program Active Citizen Social Enterprise Leaders di Amaris hotel. Dari berbagai wilayah berbeda di NTT, latar belakang dan juga agama yang berbeda. Cuma satu yang mempersatukan: bahasa Indonesia.
Shubuh itu, berita tentang penyerbuan sebuah ibadah jemaat Kristen di Bantul sungguh menyesakkan dada. Sekelompok massa menerobos masuk sambil berteriak-teriak, membubarkan paksa ibadah yang tengah berlangsung — di dalamnya ada lansia dan anak-anak yang sedang berdoa.
Mengapa masih saja sejumlah orang sedemikian mudah tersulut, bahkan ketika jalur resmi sudah ditempuh pihak lain? Bukankah semestinya persoalan seperti ini diselesaikan lewat dialog dan aturan, bukan dengan menerobos paksa tempat orang lain sedang beribadah?
Sesedikit pengetahuan saya tentang shirah Nabi Muhammad, beliau begitu menjaga hak orang lain untuk beribadah dengan tenang dan aman, bahkan menjamin keselamatan rumah ibadah umat lain di Madinah. Tapi mengapa sebagian umatnya begitu ringan tangan mengganggu, bahkan membubarkan paksa ibadah saudara-saudara yang berbeda keyakinan?
Suri teladanku, Muhammad rasulullah, berkenan menerima keberatan, bahkan protes dari pihak lain dengan kesabaran dan kasih sayang. Tapi mengapa sebagian umatnya begitu sulit menerima kenyataan bahwa pihak lain telah menempuh jalur yang benar, lalu tetap membalasnya dengan amarah yang nyaris tak terkekang.
Beliau, nabi Muhammad, memerintahkan untuk selalu mengecek dan mengecek kembali kebenaran berita, melarang keras penyebaran berita bohong dan kabar angin. Tapi mengapa masih ada umatnya yang senang membuat, membumbui, dan menyebarkan desas-desus dan fitnah. Bahkan merespons desas-desus itu dengan destruktif.
Beliau, Muhammad junjunganku, melarang keras gangguan terhadap rumah ibadah apa pun bahkan dalam situasi perang. Tapi mengapa masih ada umatnya yang dengan hati terbakar dan mata gelap tak ragu menyerbu dan membubarkan paksa ibadah dalam situasi damai, untuk alasan yang sesungguhnya sudah tak berdasar dan mestinya masih bisa didiskusikan.
Benarkah mereka umat Muhammad? Atau cuma kumpulan orang yang membawa-bawa namanya tapi tak tahu apa pun tentang akhlak beliau, dan terus hidup dengan cara-cara yang pasti membuat beliau malu dan sedih?
Saya sungguh khawatir. Umat Islam begitu banyak jumlahnya. Patut disayangkan, ada yang kerjanya malah meruntuhkan Islam setiap hari.
Memerangi kaum muslim di Indonesia ternyata tak perlu pakai senjata dengan banyak peluru, seperti di Irak dan Suriah. Cukup dengan menjauhkan umat Islam dari akhlak dan ajaran Nabinya, dengan idiom-idiom yang seolah-olah perintahnya.
(Thanks mas Jalal, atas inspirasinya …)

Comments
Post a Comment