Perjalanan Menuju Kepemimpinan yang Utuh

Setiap pemimpin bermula dari titik yang sama: belum banyak yang bisa dilakukan, belum banyak yang boleh diputuskan. Dua sumbu sederhana dapat memetakan perjalanan itu: kapabilitas, yaitu kemampuan dan kematangan karakter; serta otoritas, yaitu wewenang dan akses pada sumber daya. Dari persilangannya lahir empat kuadran, dan perjalanan yang sehat bergerak dari kiri bawah menuju kanan atas.

Titik awalnya adalah pemula, dengan kapabilitas dan otoritas sama-sama rendah. Posisi ini seimbang, sehingga aman: dampak kesalahannya kecil dan ruang belajarnya luas. Nasibnya bergantung pada sikap. Yang haus belajar akan naik, yang apatis akan mandek. Di titik ini, tugas organisasi bukan menghukum ketidaktahuan, melainkan menyediakan tantangan yang tepat.


Dari sana, langkah pertama sering timpang. Bila kemampuan tumbuh lebih cepat daripada wewenang, lahirlah talenta terkunci. Ia kaya gagasan, tetapi tak memegang tuas eksekusi. Lama-kelamaan ia bisa sinis atau pasif-agresif, lalu burnout atau hengkang. Kerugiannya sunyi, sebab organisasi kehilangan talenta tanpa menyadarinya.


Bila yang berlari lebih dulu adalah wewenang, lahirlah raja kecil: otoritas tinggi, kapabilitas rendah. Ia defensif, gemar mikromanajemen, alergi kritik, dan bersandar pada jabatan alih-alih kompetensi. Ia cenderung menyingkirkan bawahan yang lebih cakap, sehingga keputusan buruknya berdampak luas. Inilah kuadran paling berbahaya.


Keduanya sama-sama timpang, tetapi akarnya berbeda. Talenta terkunci merugikan dirinya sendiri, dan masalahnya ada di sistem yang belum memberi mandat. Raja kecil merugikan orang lain, dan masalahnya ada di diri yang belum cukup bekal. Kuncinya, ideal itu soal keseimbangan, bukan ketinggian. Kapabilitas naik lewat usaha sendiri, sedangkan otoritas naik lewat kepercayaan pihak lain. Karena itu jalur sehatnya adalah diagonal: kemampuan dan wewenang tumbuh beriringan lewat penugasan bertahap, mentor, dan umpan balik.


Puncaknya adalah pemimpin utuh: kapabilitas tinggi, otoritas tinggi. Ia menjalankan kuasa dengan kecakapan, memutuskan dengan mutu, dan memahami wewenang sebagai amanah. Ia juga tahu bahwa kuasa terbesarnya adalah kepercayaan yang diberikan orang lain. Namun puncak bukan tempat berhenti. Tanpa koreksi, ia bisa jumawa, berhenti belajar, dikelilingi orang-orang ‘Yes Man’, lalu merosot menjadi raja kecil. Atau wewenangnya dilucuti politik, dan ia menjadi talenta terkunci.


Maka tiga pertanyaan layak diajukan setiap pemimpin. Apakah wewenang saya tumbuh lebih cepat daripada kemampuan saya? Kapan terakhir saya dikoreksi oleh orang yang saya pimpin, dan bagaimana reaksi saya? Bila kemampuan saya tinggi tetapi wewenang terbatas, sudahkah saya mengusulkan mandat yang jelas, atau baru mengeluh?


Beri wewenang setara kemampuan, dan bangun kemampuan setara wewenang. Di situlah kepemimpinan yang utuh berdiri kokoh.


(Percakapan sepanjang jalan menuju kebun bersama MayJen (Purn) Imam Edy Mulyono)

Comments