Anne Applebaum pernah mengingatkan bahwa keruntuhan demokrasi modern jarang datang lewat tank dan kudeta. Ia datang dengan wajah rapi, bahasa prosedural, dan senyum stabilitas. Demokrasi tidak dihancurkan: ia dikosongkan. Institusinya tetap berdiri, tetapi maknanya perlahan dilubangi dari dalam. Proses inilah yang, —di banyak negara, melahirkan rezim pembusukan yang khas: kleptokrasi, kakistokrasi, dan plutokrasi.
Kleptokrasi, dalam kerangka Applebaum, bukan sekadar praktik korupsi individual. Ia adalah sistem kekuasaan yang secara sadar menggunakan negara sebagai alat distribusi rente bagi lingkaran loyalis. Hukum tidak dihapus, justru dipelihara secukupnya agar pencurian tampak legal. Skandal boleh muncul, asal tidak menyentuh struktur. Dalam rezim semacam ini, korupsi bukan penyimpangan, melainkan mekanisme perekat kekuasaan.
Kleptokrasi tidak bisa bekerja sendirian. Ia membutuhkan kakistokrasi—pemerintahan yang dijalankan oleh bukan mereka yang terbaik, melainkan, —yang terpenting adalah yang paling setia. Applebaum menyebut fenomena ini sebagai the replacement of professionals with loyalists. Kompetensi menjadi ancaman karena pengetahuan melahirkan pertanyaan, dan pertanyaan sungguh berbahaya bagi sistem rente. Maka institusi diisi oleh figur-figur yang aman: tidak terlalu kritis, tidak terlalu cakap, tetapi tahu persis kepada siapa mereka berutang budi.
Di bawah kakistokrasi, negara tetap berfungsi secara administratif, namun kehilangan kapasitas reflektif. Kebijakan dibuat bukan berdasarkan kualitas argumen, melainkan kedekatan politik. Kegagalan tidak pernah benar-benar dievaluasi, karena evaluasi membutuhkan kejujuran—dan kejujuran adalah barang mewah dalam sistem loyalitas.
Lalu masuklah plutokrasi, fase paling halus dari pembusukan demokrasi. Applebaum tidak menggambarkannya sebagai pemerintahan oleh orang kaya semata, melainkan oleh aliansi antara kekuasaan politik dan modal besar. Saya sering menyebutnya sebagai rezim penguasaha. Demokrasi tetap berlangsung, tetapi biaya politik yang tinggi menyaring siapa yang boleh bertahan. Akses menjadi mata uang utama. Rakyat memiliki suara, tetapi kekayaan memiliki mata dan telinga.
Dalam plutokrasi, kepentingan publik sering kalah bukan karena dikalahkan secara terbuka, melainkan karena tidak pernah benar-benar masuk meja perundingan. Negara memang berbicara tentang kesejahteraan, namun kebijakan lebih akrab dengan neraca rugi-laba.
Yang berbahaya—dan ini titik tekan Applebaum—adalah ketika ketiga fenomena ini saling mengunci. Kleptokrasi membutuhkan kakistokrasi agar tidak diganggu oleh profesional. Kakistokrasi bertahan karena dibiayai plutokrasi. Plutokrasi merasa aman karena keputusan publik dipegang oleh orang-orang yang tidak independen. Demokrasi pun berubah menjadi ritual kosong: sah secara prosedur, rapuh secara substansi.
Di ruang kelas, kegelisahan itu sering muncul dalam bentuk pertanyaan sederhana dari mahasiswa: “Jika semua ini legal, di mana letak rusaknya?” Pertanyaan itu mencerminkan inti persoalan yang dibahas Applebaum: otoritarianisme baru tidak memusuhi hukum, tetapi memanipulasinya; tidak membenci demokrasi, tetapi menggunakannya sebagai dekorasi semata.
Pembusukan demokrasi, dengan demikian, bukan peristiwa tunggal, melainkan proses normalisasi. Ketika pencurian diselesaikan dengan kompromi, ketidakcakapan disebut dinamika politik, dan dominasi uang disebut realitas ekonomi, saat itulah demokrasi kehilangan daya tahan moralnya.
Dan seperti bangkai yang dibiarkan terlalu lama, pembusukan itu tidak langsung menimbulkan kepanikan. Ia hanya meninggalkan bau—pelan, samar, tetapi sulit dihilangkan.
Comments
Post a Comment