Dulu, di sebuah seminar yang penuh semangat membara, saya berdiri di depan para audiens, dan menyatakan dengan lantang: “Passion is bullxxxx!” Saya ingat sekali, itu di Gedung Bank Indonesia Samarinda. Tahunnya yang lupa. Maklum sudah tua. Mas @Ryan Widiyanto yang masih mudaan pasti masih ingat.
Tentu, ruangan hening. Beberapa motivator yang masih ada di ruangan, tersedak. Seorang ibu pegiat MLM hampir menjatuhkan brosur motivasinya yang berjudul “Sukses dalam Tujuh Langkah Tanpa Kantong Bocor”. Seorang pemuda berkacamata, lulusan fakultas psikologi yang belum sempat bekerja karena terlalu sibuk memotivasi diri jadi pengusaha besar, menatap saya seolah saya baru saja menghina neneknya.
Tapi saya tidak goyah. Karena saya tahu, “follow your passion” adalah kalimat manis yang ditiupkan ke telinga orang-orang yang masih belum sadar bahwa PLN, PDAM, dan Indomaret tidak menerima bayaran dalam bentuk janji manis, semangat atau cinta.
Coba pikir, kalau passion bisa menyelamatkan hidup, maka anak-anak muda yang hobi rebahan sambil main Mobile Legends sudah pasti jadi konglomerat, dan negara kita bukan kekurangan lapangan kerja, tapi justru kekurangan pendamping content creator TikTok.
Lalu saya bertemu Paul Jarvis — bukan di seminar, tentu saja. Tapi di bukunya Company of One, dalam bab yang judulnya agak menyesakkan, When Passion is a Problem. Isinya? Sebuah tamparan halus bagi mereka yang terlalu percaya bahwa passion sudah lebih dari cukup untuk menaklukkan dunia.
Kata Paul, dan saya kutip dengan penuh keyakinan seperti mahasiswa mengutip sebaris kalimat dalam jurnal tanpa baca seluruh isi:
“Just because you’re passionate about tennis doesn’t mean you’ll be the next Serena Williams.”
Nah. Itu dia. Kalau semua orang yang cinta tenis bisa jadi Serena Williams, maka tukang bakso yang cinta bulu tangkis harusnya sudah bertanding di All England. Tapi kenyataannya? Dia masih keliling naik sepeda motor, dan raketnya dipakai buat jaga tutup panci.
Passion itu bukan panggilan jiwa. Itu adalah efek samping. Seperti keringat yang muncul setelah olahraga — bukan sebelum. Passion hadir setelah kerja keras. Setelah jungkir balik. Setelah berkali-kali salah atau kalah. Setelah mata merah dan tangan pegal. Barulah muncul itu yang dinamakan “passion”.
Passion is the side effect of mastery, kata Paul Jarvis, dan saya rasa dia benar, meski dia belum pernah ke Samarinda.
Jadi, kalau masih ada yang berkata, “Ikuti saja passion-mu,” tanyakan balik:
“Passion yang mana? Yang datang bagai bawaan lahir, atau yang baru muncul setelah kerja keras bertahun-tahun?” Buat saya, passion cuma komoditi jualan pelatihan.
Karena passion tanpa keterampilan, komitmen, dan ketahanan adalah seperti cinta monyet: lucu, menyenangkan, tapi tidak pernah cukup untuk bayar uang muka rumah subsidi.
Silakan, kalau mau dipakai di seminar lagi. Tapi pastikan teh manisnya jangan terlalu panas. Nanti ada lagi motivator yang tersedak.
Comments
Post a Comment