Mazhab Itu Penting, Kecuali Kalau Kamu Punya Rudal


Di negeri ini, mazhab adalah perkara hidup dan mati—setidaknya sampai pihak yang berbeda punya senjata dan musuh bersama. Selama mereka hanya warga sipil yang salatnya beda gerakan, wiridnya beda bacaan, atau ceramahnya beda kitab, maka nasibmu seperti lalat di depan kipas angin: hidup segan, mati dirajam. Mau bikin pengajian saja harus kucing-kucingan dengan aparat dan ormas. Salah sedikit, langsung masuk label sesat, kafir, atau minimal “perlu dibina.”


Tapi lalu datanglah sebuah momen: sebuah negeri kecil diakuisisi, dan negeri-negeri Sunni yang jumlahnya tak kalah banyak dari populasi semut di musim hujan cuma bisa bilang, “Kami sedang mengusahakan jalur diplomatik.” Diplomatik ke mana? Ke grup WhatsApp?


Lalu muncullah Syiah—yang kemarin kita usir, kita beri stempel sesat, kita bakar tempat ibadahnya—tiba-tiba muncul melempar rudal ke negeri penjajah. Bukan ayat, bukan kutipan ceramah, tapi rudal. Dan dalam sekejap, semua berubah.


Yang tadinya menyebut mereka “musuh dalam selimut” sekarang menyebut mereka “pahlawan dunia Islam.” Yang kemarin membakar buku-buku mereka, hari ini mengutip pernyataan komandannya. Yang kemarin bilang “mereka bukan bagian dari kita,” sekarang bilang “mereka saudara seiman.” Tiba-tiba darah Syiah jadi halal untuk dipuji—asal darahnya juga tertumpah di medan jihad.


Hipokrisi ini luar biasa lentur. Elite politik mulai mengernyitkan dahi dengan wajah penuh prihatin dan kata-kata bijak. Tentu, bukan prihatin karena Syiah diperlakukan semena-mena, tapi karena posisi mereka di geopolitik jadi rawan. Yang biasanya menyuruh umat menjauhi ajaran sesat, sekarang rajin menyelipkan pujian di tengah khutbah. Bahwa jihad itu penting. Bahwa kita harus bersatu. Bahwa mazhab itu urusan kecil—tentu saja kecil, selama tidak mengganggu bisnis, logistik, dan citra publik.


Agama di negeri ini bukan lagi soal keyakinan, tapi soal kebutuhan. Siapa yang sedang dibutuhkan, dia akan disucikan. Bahkan seseorang yang mengaku atheis pun dikutip ucspannya, kalau cocok dengan isi hati. Sebaliknya, sesiapa yang tidak relevan, ya disingkirkan. Prinsip bisa nego, dalil bisa lentur, asal hasilnya sesuai dengan agenda.


Jadi ya, untuk sekarang, penganut Syiah silakan beristirahat. Boleh salat pakai turbah, boleh ziarah ke makam, bahkan mungkin dibikinkan panggung di forum resmi. Tapi jangan lupa, semua ini temporer. Begitu musuh bersama tiarap, dan kita mulai butuh kambing hitam untuk memperkuat kesatuan, ya siap-siap saja kembali ke daftar pengganggu ketertiban umum.


Toh kita ini bangsa yang gemar mengagumi keberanian orang lain, sepanjang mereka tidak tinggal di sebelah rumah.


Duh Gusti. Betapa pandainya Dikau membolak-balik hati …

Comments