Sekarang ini, ada satu kalimat yang kariernya melesat lebih cepat dari lulusan bootcamp tiga minggu: “kuliah itu scam.” Kalimat ini pendek, tegas, dan terasa pintar—terutama bila diucapkan sambil menyeruput kopi mahal yang baristanya justru lulusan sekolah pariwisata.
Entah sejak kapan, kuliah diposisikan seperti penjual jam tangan di lampu merah: tampak meyakinkan dari jauh, tapi begitu didekati, mesinnya mati. Padahal, kalau mau jujur sedikit—dan kejujuran memang sering kurang laku—lebih banyak orang berhasil justru karena sekolah. Anehnya, tokoh-tokoh yang paling rajin dipinjam untuk menghantam kampus, seperti Bob Sadino dan Susi Pudjiastuti, tidak pernah terlihat mengampanyekan pembubaran sekolah.
Mereka hanya tidak betah duduk terlalu lama di kelas, bukan tidak percaya pada pentingnya belajar.
Ketika saya pamit oom Bob saat akan kuliah lagi di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), sama sekali tidak ada penolakan. ‘Berangkat Jay. Setelah selesai, balik lagi ke sini ya,’ begitu tanggapannya.
Memang, ilmu itu bisa didapat di mana saja. Di jalanan, di pasar, di bengkel, bahkan di grup WhatsApp keluarga yang isinya lebih sering hoaks daripada hikmah. Tapi ada satu hal yang jarang dipelajari dari pengalaman liar: keteraturan. Hidup boleh semrawut, tapi pikiran sebaiknya tidak. Dan untuk belajar berpikir runtut—dari mana sesuatu berasal, ke mana ia bergerak, dan mengapa ia berakhir—dibutuhkan proses belajar yang juga runtut.
Itulah yang, dalam cita-cita paling idealnya, ingin dilakukan sekolah.
Saya sendiri termasuk orang yang sempat percaya bahwa lapangan adalah guru terbaik. Maka saya turun ke lapangan lebih dulu, belajar dengan cara khas Indonesia: coba-coba, salah-salah, dan pura-pura paham. Setiap kesalahan memberi pelajaran, benar, tapi juga memberi lebam. Dalam bahasa Tan Malaka, proses itu disebut terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Sebuah metode yang efektif, meski agak boros—boros waktu, boros tenaga, dan kadang boros harga diri.
Ketika kemudian saya masuk sekolah, barulah saya paham fungsi sejati pendidikan formal: bukan untuk membuat seseorang langsung pintar, apalagi kaya, melainkan untuk mengurangi jumlah benturan yang tidak perlu. Sekolah menyediakan short-cut—bukan jalan tol menuju sukses, tetapi setidaknya jalan beraspal agar orang tidak selalu belajar dengan hidung sebagai bemper. Tentu saja, kualitas jalan ini sangat tergantung pada kurikulumnya dan siapa yang mengemudikan kelas. Dosen yang asal jalan memang bisa membawa mahasiswa tersesat dengan cepat.
Maka, menyebut kuliah sebagai scam sebenarnya bukan kritik, melainkan keluhan yang belum sempat berpikir panjang. Yang perlu dipertanyakan bukan apakah sekolah itu perlu, tetapi sekolah macam apa yang kita bangun. Sebab hidup, bagaimanapun juga, tetap akan menguji kita tanpa silabus dan tanpa remedial. Sekolah—jika masih setia pada akal sehat—setidaknya memberi kita buku pegangan sebelum ujian itu benar-benar dimulai.
Dan kalau pun setelah semua itu seseorang tetap gagal, setidaknya ia gagal dengan catatan kaki.

Comments
Post a Comment