Hidup saya bukanlah garis lurus yang rapi. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang dengan banyak belokan—sebagian saya pilih dengan sadar, sebagian lain memaksa saya berjalan tanpa peta. Ada masa ketika langkah terasa ringan, dan ada masa ketika setiap tapak kaki seperti diuji.
Ini adalah refleksi dari kehidupan saya.
Tidak seluruhnya berjalan mulus. Tidak pula selalu lurus.
Di awal perjalanan, saya pernah mengira bahwa hidup yang baik adalah hidup yang sesuai rencana. Bahwa kebahagiaan berarti tidak terlalu sering jatuh, dan kesuksesan berarti jarang tersesat. Namun waktu, dengan caranya yang sunyi, perlahan mengoreksi pemahaman itu.
Ada kegagalan yang terasa memalukan. Ada kehilangan yang datang tanpa aba-aba. Ada doa-doa yang saya bisikkan dengan keyakinan penuh, tetapi jawabannya seolah tertahan di langit. Pada fase-fase itu, saya belajar bahwa yang paling berat bukanlah peristiwa, melainkan pergulatan batin untuk tetap percaya.
Di sanalah saya mulai memahami makna sabda Nabi ﷺ:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”
Prasangka baik kepada Allah bukan berarti meniadakan rasa kecewa, lelah, atau sedih. Ia adalah keberanian untuk tetap melihat cahaya, bahkan ketika jalannya gelap. Ia adalah pilihan untuk percaya bahwa setiap kesulitan membawa pesan, dan setiap penundaan menyimpan maksud.
Ujian yang dulu saya anggap sebagai penghalang, ternyata adalah penuntun. Ia memaksa saya melambat agar lebih sadar, merendah agar lebih jujur, dan berhenti agar belajar mendengar. Dalam sempit, saya menemukan batas diri. Dalam keterbatasan, saya belajar berserah.
Begitu pula kesenangan. Ia tidak datang sebagai garis akhir, melainkan sebagai persinggahan. Ia mengajarkan syukur, bukan untuk membuat saya berhenti, tetapi agar saya kuat melanjutkan perjalanan berikutnya.
Kini, ketika saya menoleh ke belakang, saya melihat pola yang dulu tak saya pahami. Bahwa hidup tidak membawa saya dari satu penderitaan ke penderitaan lain, melainkan dari satu keberuntungan ke keberuntungan yang lain—sebagian terasa manis, sebagian terasa pahit, tetapi semuanya membentuk.
Dan pelan-pelan saya sadar: inilah jalan pulang.
Bukan jalan yang bebas luka, tetapi jalan yang mengembalikan.
Mengembalikan saya pada kepercayaan, pada ketenangan, pada Tuhan yang tidak pernah salah dalam menetapkan.
Takdir memang tidak selalu lurus.
Tidak selalu mulus.
Namun semakin jauh melangkah, semakin yakin saya bahwa setiap belokan memiliki arah, setiap jeda memiliki tujuan, dan setiap ketentuan—seberat apa pun saat dijalani—selalu membawa kebaikan pada akhirnya.
Karena pulang bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita belajar percaya. Dan di ujung perjalanan itu, saya menemukan kebahagiaan yang sederhana: hati yang tenang, dan keyakinan utuh bahwa ketentuan-Nya selalu yang terbaik.
Comments
Post a Comment