Di Depan Altar Kematian


Ada dua hal yang datang hampir bersamaan minggu ini, dan keduanya memaksa saya berhenti sejenak: kabar duka tentang seorang kawan dekat yang wafat, dan bacaan Tadarus yang tiba di Surat Al-Fajr.


Dalam kamus hidup saya, tidak ada kata kebetulan. Saya sangat percaya, tidak ada kebetulan bagi jiwa yang sedang diajak merenung.


Al-Fajr, di salah satu bagiannya, membicarakan sisi paling mendasar dari manusia: bagaimana kita mengingat Tuhan ketika susah, lalu lupa bersyukur begitu nikmat datang. Sebuah pola yang begitu jujur menggambarkan kita — bukan hanya "orang lain", tapi saya, dan mungkin juga Anda.


Namun bagian yang paling menyentuh bagi saya, selalu ada di tiga ayat terakhirnya. Di sana Tuhan menjanjikan sesuatu yang sederhana namun agung: *jiwa-jiwa yang tenang* akan dipanggil kembali, dengan rida dan diridai, untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya, ke dalam surga-Nya.


Membaca itu pagi tadi, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh — pada kematian. Dan pada kawan saya, seorang ateis, yang baru saja berpulang.


Saya ingin berhenti sejenak di sini, karena ini bukan semata soal Islam. Ini soal kita semua — manusia, apa pun yang kita yakini atau tidak yakini.


Saya percaya, di setiap tradisi keyakinan, selalu ada peringatan tentang kematian. Karena kematian adalah satu-satunya kepastian yang tidak bisa ditawar dalam hidup. Ia menunggu semua orang — termasuk mereka yang tidak percaya pada Tuhan, akhirat, atau kehidupan setelah mati.


Thomas Kuhn, ilmuwan yang mengubah cara kita memahami sejarah sains, pernah mengatakan sesuatu yang menempel kuat di kepala saya: *atheisme berhenti di depan altar kematian.*


Betapa dalamnya kalimat itu. Sehebat apa pun seseorang menolak gagasan tentang Yang Ilahi, ia tetap tidak berdaya ketika ada kuasa di luar dirinya yang menghentikan seluruh kerja organ tubuhnya — dari kepala sampai kaki — dalam satu tarikan napas terakhir. Di titik itu, semua orang, percaya atau tidak, berdiri sejajar: sama-sama kecil, sama-sama fana.


Rasulullah SAW pernah bersabda, *sebaik-baik nasihat adalah kematian.* Saya yakin, di agama-agama lain pun ada nasihat serupa — mungkin dengan bahasa dan bingkai yang berbeda, tapi mengarah pada kesadaran yang sama.


Dan ini penting untuk digarisbawahi: peringatan semacam itu bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti. Ia hadir sebagai pengingat sederhana, bahwa hidup ini bukan hanya soal yang bisa dilihat mata, diukur dengan pencapaian, atau dihitung dengan angka.


Ada yang lain. Yang tak tampak, tapi memiliki kuasa penuh atas segalanya — termasuk atas napas kita sendiri.


Entah kenapa, saya selalu meyakini — meski tanpa bukti yang bisa saya pertanggungjawabkan secara ilmiah — bahwa Sapardi Djoko Damono terinspirasi dari semangat Al-Fajr ketika menuliskan salah satu larik terbaiknya:


Barangkali itulah cara paling puitis untuk mengatakan apa yang sulit diucapkan agama secara gamblang: bahwa tubuh boleh berhenti bekerja, tapi kebaikan, cinta, dan pengaruh baik seseorang tidak pernah benar-benar mati. Ia terus hidup — dalam kenangan, dalam kerja-kerja yang ditinggalkan, dalam setiap orang yang pernah disentuhnya.


Kawan saya mungkin tidak percaya pada akhirat. Tapi ia tetap hidup, hari ini, dalam tulisan ini, dan dalam ingatan setiap orang yang mengenalnya.


Selamat jalan, kawan. Damai untukmu, di mana pun jiwamu kini berada.

Comments