Di sebuah desa kecil di lereng pegunungan, seorang ibu menyeka lumpur di pipi bayinya sambil menatap rumahnya yang rata dengan tanah. Ia tidak pernah menebang pohon, bahkan masih takut memotong kayu basah. Tetapi pagi itu, ia menjadi korban tanah yang kehilangan akar. Hujan semalam tidak luar biasa, hanya sedikit lebih sabar daripada biasanya. Namun bukit di atas sana tak lagi kuat menahan genangan. Longsor pun datang tanpa mengetuk pintu.
Ratusan kilometer dari sana, seorang pengusaha duduk di ruang rapat ber-AC sambil menggeser slide presentasi. Grafik keuntungan meningkat tajam setelah pembukaan hutan besar-besaran. Di balik kaca jendela yang tebal, hujan turun perlahan—hujan yang sama yang mengguyur desa—tetapi di sini ia jatuh tanpa risiko. Para petinggi perusahaan tersenyum. Tidak ada yang berlumpur, tidak ada yang hanyut. Tentu saja: alam hanya marah pada tempat yang sudah diretas, bukan pada gedung yang licin.
Sementara itu, di sebuah kota yang penuh polusi dan keluh-kesah, sekelompok warga mengantre air bersih. Sungai yang dulu jernih kini mengalir seperti kopi murahan—hitam, berbau, dan tidak menyehatkan. Mereka menyalahkan hujan, menyalahkan tumpukan sampah, menyalahkan apa pun yang terlihat. Mereka lupa bahwa sungai itu dahulu dijaga oleh hutan yang kini tinggal kenangan, dibuka untuk perkebunan yang tidak pernah mereka nikmati hasilnya.
Tiga tempat, tiga cerita, tetapi semuanya ditautkan oleh satu kebenaran yang sangat sederhana: alam hanya membalas apa yang manusia lakukan kepadanya. Kita membabat hutan, alam membalas dengan banjir dan longsor. Kita mengeringkan rawa, alam membalas dengan krisis air. Kita membuka bukit, alam membalas dengan lumpur yang membawa serta masa depan orang-orang yang bahkan tidak ikut menebang ranting.
Sayangnya, pelaku tidak selalu sama dengan korban. Yang menebang hutan sering kali mereka yang berduit, yang akrab dengan izin dan kuasa, yang tahu persis harga kayu dan minyak sawit di pasar dunia, tetapi tidak pernah menghitung nilai hidup. Mereka tinggal di wilayah tinggi dan aman, berdinding tebal, berjendela besar. Sementara yang menangis kehilangan rumah adalah petani, buruh, dan warga kampung yang tidak pernah meminta apa pun kecuali hidup damai.
Dan ironi paling besar sebenarnya bukanlah bencananya, melainkan cara kita menanggapinya. Kita selalu sibuk memadamkan akibat, tetapi enggan menyentuh sebab. Kita menggelontorkan anggaran besar untuk merespons bencana, tetapi menganggap pencegahan sebagai pekerjaan kecil yang tidak fotogenik. Kita merayakan ketangguhan korban, memuji solidaritas warga, memuji para relawan—padahal ketangguhan itu lahir dari rangkaian keputusan bodoh yang dipertahankan bertahun-tahun.
Beginilah negeri yang ahli membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar. Kebakaran hutan dianggap musiman. Banjir dianggap takdir. Longsor dianggap insiden. Yang tidak dianggap adalah manusia-manusia yang menumpuk keuntungan sambil menumpuk risiko di punggung orang miskin.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu benar dan tidak pernah berubah: alam tidak pernah menghukum orang yang tidak bersalah. Ia hanya membalas sesuai perlakuan manusia. Tetapi karena manusia yang berbuat dan manusia lain yang menerima akibatnya, jadilah bencana sebagai drama paling tidak adil yang terus kita tonton tanpa belajar dari episode sebelumnya.
Dan seperti yang pernah diingatkan Jusuf Kalla: di negeri ini, semua hal dibicarakan kecuali hal-hal penting. Termasuk pentingnya berhenti bekerja bodoh dalam mengelola alam. Tapi tampaknya, sampai kita menyadari itu, alam masih harus terus mencetak struk balas dendam yang harus dibayar tunai—kadang dengan harta, kadang dengan rumah, dan terlalu sering, dengan nyawa.
Comments
Post a Comment