Dua hari terakhir workshop di MIT, dinding-dinding ruangan itu kembali menunggu. Kelvy Bird — sang maestro — tidak hadir. Spidol warna-warninya kini berpindah tangan.
Seorang pria dengan ikat kepala berdiri menghadap papan berlapis kertas putih yang membentang di sisi dinding. Perawakannya tenang. Tidak ada yang mengenalnya sebagai legenda. Tidak ada nama besar yang mendahuluinya di ruangan itu. Hanya ia, spidol, dan dinding kosong yang menunggu untuk dijadikan cermin.
Namanya Indra Zaka Permana. Asli urang Sunda, Indonesia.
Pak Otto Scharmer mulai berbicara.
Kata-kata mengalir — konsep-konsep besar, gagasan yang membelah dan menyatukan, bahasa Inggris yang bergerak cepat melampaui batas waktu dan ruang. Lalu Phil Thompson. Lalu Jason Jay. Dan di sisi ruangan, tangan Pak Zaka terus bergerak.
Bukan mengejar. Bukan mencatat. Tapi menangkap — seperti seorang nelayan yang tahu persis di mana ikan besar akan muncul ke permukaan. Lingkaran. Panah. Wajah-wajah kecil. Garis yang menghubungkan apa yang tampak terpisah.
Ruangan itu tidak langsung sadar.
Perhatian tetap pada pembicara — sebagaimana mestinya. Tapi perlahan, satu per satu, mata mulai berpaling ke dinding. Mengernyit sejenak. Lalu mengangguk. Sesuatu yang tadi mengambang di udara — kini punya tempat untuk berpijak.
Di akhir sesi, seseorang berdiri lama di depan dinding itu. Mungkin ia mencari kembali sebuah gagasan yang sempat terlewat. Mungkin ia sekadar kagum. Tapi yang pasti — ia tidak bisa membedakan apakah tangan yang menggoreskan semua ini adalah tangan Kelvy Bird, atau tangan seorang putra Sunda yang jauh dari kampung halamannya.
Dan itulah heroisme yang sunyi.
Bukan heroisme yang disambut sorak-sorai. Bukan yang diumumkan di podium. Tapi heroisme seorang yang berdiri di sudut ruangan terbaik dunia — MIT — dan membuktikan bahwa tanah Sunda pun melahirkan jiwa-jiwa yang mampu menerjemahkan gagasan terbesar umat manusia ke dalam bahasa gambar.
Pak Zaka tidak perlu berkata apa-apa. Dindingnya sudah bercerita.
Dan cerita itu, hari itu, berbahasa Sunda — meski tak satu pun yang menyadarinya.
Comments
Post a Comment