Ada masa ketika sebuah organisasi masih lugu. Ia duduk manis di bangku kuliah manajemen dan berkenalan dengan empat huruf yang terdengar seperti kode sandi: POAC. Planning, Organizing, Actuating, Controlling. Ia mencatatnya rapi, menghafalnya tekun, bahkan mungkin mengutip nama Henri Fayol dengan penuh percaya diri di lembar ujian. Nilainya baik. Masa depannya cerah.
Lalu organisasi itu tumbuh.
Ia mulai menyelenggarakan seminar, diskusi, rapat koordinasi, forum nasional, bahkan forum internasional yang spanduknya lebih panjang dari substansinya. Jam terbangnya meningkat. Pengalamannya melimpah. Dan seperti banyak manusia yang mulai merasa matang, ia pun merasa sudah tidak memerlukan pelajaran dasar lagi.
Planning perlahan berubah menjadi keyakinan optimistis bahwa segala sesuatu “nanti juga bisa diatur”. Acara ditetapkan dengan penuh semangat, tanggal dipilih dengan keberanian, pembicara disebut dengan kebanggaan. Hanya satu yang tidak sempat dipikirkan secara serius: waktunya. Maka undangan pun meluncur dengan santun tetapi mendadak. “Mohon kesediaannya hadir besok pagi.” Kalimatnya halus, hampir religius. Hanya saja jaraknya dengan hari pelaksanaan sering kali terasa seperti jebakan.
Organisasi itu heran ketika ada yang menolak. Bukankah acaranya penting? Bukankah temanya strategis? Bukankah tujuannya mulia? Ia lupa satu hal kecil: orang lain juga punya planning.
Organizing pun mengalami nasib serupa. Dahulu ia berarti pembagian tugas yang jelas, garis komando yang tegas, dan tanggung jawab yang dapat ditagih. Kini ia cukup diwujudkan dalam bentuk grup percakapan digital yang riuh di awal lalu sunyi di tengah. Struktur tetap dicantumkan dalam proposal, lengkap dengan bagan yang tampak akademis. Di lapangan, semua menjadi cair. PIC bisa berarti “Please I’m Confused”. Ketika terjadi kekacauan kecil, semua merasa terlibat; ketika terjadi kesalahan besar, tak seorang pun merasa memiliki.
Actuating lalu berubah menjadi kesibukan yang heroik. Orang-orang berlari ke sana kemari, telepon berdering tanpa henti, pesan masuk seperti hujan di musim penghujan. Semua tampak bekerja keras. Semua tampak lelah. Dan kelelahan itu sering dianggap sebagai bukti profesionalisme. Padahal kapal yang kehilangan arah pun bisa sangat sibuk berputar-putar.
Controlling biasanya hadir paling akhir, dengan wajah bijak dan kalimat sakti: “Ke depan harus lebih baik lagi.” Kalimat ini tidak pernah salah. Ia juga tidak pernah benar-benar memperbaiki apa pun. Ia terdengar reflektif, padahal sering kali hanya menjadi selimut hangat bagi kelalaian yang diulang.
Menariknya, semua ini terjadi bukan karena organisasi tidak pernah belajar. Justru karena ia pernah belajar, ia merasa sudah melampaui. Ia merasa teori hanyalah anak tangga, sementara ia sudah berada di lantai atas. Ia lupa bahwa anak tangga itu tetap diperlukan untuk turun dan naik kembali.
Yang paling halus sekaligus paling serius dari semua ini adalah soal rasa hormat terhadap waktu. Mengundang orang secara mendadak bukan sekadar kesalahan teknis manajemen. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa waktu kita lebih penting daripada waktu orang lain. Bahwa kesibukan kita lebih mendesak daripada agenda mereka. Bahwa kelalaian kita bisa ditutup dengan kata “mohon”.
Di sinilah empat huruf itu sebenarnya bekerja sebagai kompas moral, bukan sekadar alat teknis. Planning bukan hanya menyusun jadwal, tetapi menghargai kehidupan orang lain yang juga terjadwal. Organizing bukan sekadar membagi tugas, tetapi memastikan tidak ada yang dibiarkan bekerja dalam kebingungan. Actuating bukan sekadar bergerak, tetapi bergerak menuju tujuan yang telah dipikirkan matang. Controlling bukan sekadar evaluasi, tetapi kesediaan untuk mengoreksi diri sebelum orang lain yang merasakan dampaknya.
Mungkin problem kita bukan kekurangan konsep manajemen. Buku-buku sudah dibaca. Istilah-istilah sudah dikuasai. Roadmap, governance, strategic alignment, semua terdengar fasih. Tetapi empat huruf sederhana itu justru terasa terlalu elementer untuk diingat.
Padahal sering kali organisasi tidak gagal karena kurang canggih. Ia gagal karena lupa pada dasar yang dulu pernah ia hafalkan dengan bangga.
Empat huruf itu memang sederhana. Terlalu sederhana, barangkali, untuk terus dihormati. Tetapi dalam kesederhanaannya, ia menyimpan satu pesan yang tidak pernah usang: keteraturan adalah bentuk paling nyata dari rasa hormat.
Dan organisasi yang besar bukanlah yang paling sering membuat acara, melainkan yang paling jarang membuat orang lain merasa waktunya disepelekan.
Comments
Post a Comment