Di bagian 1 saya cerita soal mengosongkan diri dulu sebelum diisi hal baru. Nah, dalam tulisannya, pak Otto Scharmer bilang ada "tanah sosial" di setiap masyarakat yang sedang retak. Beliau sebut tiga penyebabnya.
Pertama, nilai-nilai bersama yang mulai hilang — orang jadi tidak lagi punya pegangan mana yang benar dan salah. Kedua, hubungan antar-manusia yang makin renggang — orang makin terpolarisasi dan makin kesepian. Ketiga, kemampuan berpikir dan berkreasi yang makin lemah — karena kita makin bergantung pada mesin dan AI untuk berpikir.
Tiga masalah ini, kata pak Otto, sebenarnya berasal dari satu akar yang sama: tanah sosial yang sedang rusak.
Saya baca ini sambil memikirkan pekerjaan saya sehari-hari mengelola dana zakat, infaq, sedekah dan wakaf. Saya langsung mengenali ketiganya — bukan sekadar teori, tapi kejadian nyata.
Nilai yang hilang: ketika amanah dianggap remeh, dan dana umat diselewengkan karena "toh semua orang juga melakukan hal yang sama."
Hubungan yang renggang: ketika orang yang berzakat dan orang yang menerima zakat tidak pernah benar-benar bertemu, tidak saling kenal, sehingga memberi dan menerima cuma jadi transaksi, bukan hubungan.
Daya cipta yang melemah: ketika sebuah lembaga berhenti berinovasi, dan cuma jadi "penyalur" — terima uang, bagi-bagikan, lalu ulangi lagi bulan depan, tanpa pernah mencari cara yang lebih baik.
Saya sering bilang: dana umat sering berperilaku seperti ember. Ditampung, dibagikan habis, ember kosong diisi lagi. Tidak pernah jadi seperti pipa yang terus mengalirkan manfaat.
Saya rasa ini bukan sekadar soal kurang dana. Ini soal tanahnya yang rusak. Sebanyak apa pun air dituang ke tanah yang retak, air itu akan tetap terbuang percuma.
Ada ayat Al-Qur'an yang menggambarkan tanah subur dan tanah tandus — hujan yang sama turun ke keduanya, tapi cuma pada tanah yang subur pohonnya berbuah. Di tanah tandus, banjirlah yang terjadi. Ini juga bukan cuma soal tanah beneran, tapi juga tentang hati manusia, dan tentang lembaga-lembaga yang kita bangun.
Lanjut ke bagian berikutnya: satu kalimat dalam tulisan pak Otto yang bikin saya berhenti membaca sejenak — tentang perhatian sebagai "napas" hubungan sosial — dan kenapa itu mirip sekali dengan konsep khusyu' dalam shalat kita.
#Zakat #Wakaf #TheoryU

Comments
Post a Comment