Seribu Aksi, Single Hero


Di negeri ini, kemenangan tim hanya berlaku sampai upacara penutupan. Setelah itu, yang ditulis media cuma satu nama. Kalau tim bola menang, yang diwawancara cuma pencetak gol. Kalau grup vokal juara, yang masuk TV cuma yang mukanya mirip artis Korea. Bahkan lomba karya ilmiah berkelompok pun, yang dipanggil ke istana cuma yang pintar bicara di depan kamera.


Ini bukan negara gagal—ini negara yang sangat berhasil, —dalam menyeleksi siapa yang pantas dipuja-puji.


Padahal, dalam sepak bola, ada pemain yang tidak pernah cetak gol tapi lari seperti banteng ketaton. Dalam tim sains, ada yang tugasnya cuma bikin slide PowerPoint tapi dia rela begadang tiga malam. Dalam tim SAR, ada yang tugasnya “cuma” menjerang kopi, tapi tanpa dia, tim sudah gemetar kedinginan dan bolak-balik gagal melakukan evakuasi.


Namun publik kita lebih percaya pada narasi yang sederhana: satu wajah, satu nama, satu pahlawan. Ya, pahlawan tunggal adalah jenis makhluk yang paling laku dijual. Karena lebih mudah dinarasikan, gampang dimuat di poster, disematkan di piagam, dan diklik di media sosial.


Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: kalau memang keberhasilan itu milik bersama, kenapa cuma satu orang yang dapat sorotan?


Contohnya, baru-baru ini, operasi evakuasi korban longsor di Gunung Rinjani berhasil dilaksanakan. Hebat? Jelas. Kerja siapa? Tentu kerja bareng. Tapi yang viral cuma satu nama: Muhammad Agam. Media pun langsung siaga satu: siap menggadang-gadang dia sebagai “The Next Si Paling Heroik.”


Tapi dunia ini belum sepenuhnya gelap. Di antara nyala blitz kamera dan puja-puji dari Brazil, Agam melakukan sesuatu yang tak biasa: menolak hadiah penghargaan individual. Alasannya sederhana dan menyayat nurani yang sudah kebas: “Ini kerja tim.”


Subhanallah. Di era di mana orang bisa mengklaim “saya berkontribusi” hanya karena share link donasi di Instagram, Agam malah menghilang dari sorotan.


Ia bukan sedang sok suci. Ia hanya sedang mengingatkan, bahwa banyak tangan yang ikut mengevakuasi korban di gunung, bukan hanya tangan yang sempat menjentik kamera GoPro.


Agam mungkin tak viral sekuat Atta Halilintar, tapi dia memberi teladan yang lebih langka: menolak menjadi simbol di atas kerja kolektif.


Bayangkan kalau semua orang seperti Agam. Tak akan ada lagi gelar “Si Paling Berjasa” di setiap musyawarah. Tak akan ada foto bos sendirian memegang piagam, padahal yang kerja sampai malam justru stafnya. Mungkin dunia akan jadi tempat yang lebih membosankan bagi media, tapi jauh lebih sehat bagi nurani kolektif.


Karena kerja besar tak butuh satu pahlawan, tapi banyak keringat yang tak disebutkan namanya.

Comments