Profesor Tribun


Setiap musim, negeri ini melahirkan ribuan jenius baru. Mereka mungkin lahir di rumah sakit. Yang pasti mereka kemudian muncul lagi di kolom komentar, di ruang seminar, dan di sudut-sudut warung kopi yang wi-fi-nya kencang.


Keunggulan mereka satu: belum pernah merasakan lumpur lapangan.


Sebab turun ke lapangan itu berbahaya. Bola bisa direbut. Kaki bisa keseleo. Napas bisa putus di menit ke-60 ketika lawan justru makin segar. Dan nama bisa dicatat dalam sejarah sebagai orang yang salah umpan di momen paling genting. Maka lebih aman duduk di tribun, berteriak dengan lantang, dan menyimpan sepatu di lemari — bersih, mengkilap, tak pernah berlumpur.


Di tribun inilah para Profesor Tribun bermukim.


Mereka tahu segalanya. Mereka tahu mengapa gelandang itu salah langkah. Mereka tahu mengapa kiper itu terlambat membaca bola. Mereka tahu formasi apa yang seharusnya dipakai, siapa yang seharusnya diganti, dan di menit keberapa substitusi itu dilakukan. Dan tentu saja mereka tahu — dengan keyakinan yang menggetarkan dada — bahwa pelatihnya bodoh dan tolol.


Kata-kata itu diucapkan dengan gagah. Dengan semangat membara. Dengan tanda seru yang jumlahnya berbanding lurus dengan dangkalnya analisis.


Tidak ada yang salah dengan kritik. Kritik adalah oksigen demokrasi. Tapi oksigen dan kentang goreng adalah dua hal berbeda, meski keduanya sama-sama dibutuhkan di warung.


Kritik yang baik datang dengan pertanyaan: lalu bagaimana seharusnya?


Kritik yang murahan datang hanya dengan kesimpulan: dia salah, aku benar, dan aku tidak perlu membuktikan apa-apa karena toh aku tidak akan pernah turun ke lapangan itu.


Inilah kehebatan sejati Profesor Tribun: imunitas total dari akuntabilitas.


Mereka tidak perlu berlari. Tidak perlu berkeringat. Tidak perlu bernegosiasi dengan rekan setim yang egois, atau menghadapi lawan yang bermain keras tapi lolos dari kartu wasit. Mereka cukup duduk, menyeruput kopi, dan menjadi paling pintar di antara orang-orang yang juga tidak turun ke lapangan.


Seorang mahasiswa — dengan api muda yang saya hormati, sungguh — baru-baru ini menyebut presiden dengan kata-kata yang lazim dipakai untuk menggambarkan orang yang tidak lulus ujian SIM. Sejumlah pengamat dengan enteng mengucap dungu berkali-kali, bahkan mungkin ketika ybs mengigau.


Saya tidak membela sang presiden. Presiden cukup besar untuk membela dirinya sendiri, atau setidaknya punya staf yang digaji untuk itu.


Saya hanya ingin bertanya dengan lembut kepada sang mahasiswa: jika kamu yang turun ke lapangan itu — bukan lapangan kampus, tapi lapangan sebagau pengelola negata itu — strategi apa yang akan kamu mainkan?


Dengan anggaran berapa? Dengan koalisi siapa? Tekanan internasional mana yang akan kamu abaikan dan mana yang akan kamu turuti? Ketika peluit wasit berpihak dan penonton setengahnya mencemooh — kamu akan berlari ke mana?


Kalau jawabannya adalah “pokoknya lebih baik dari sekarang” — maka saya khawatir bahwa kita sedang berbicara dengan seseorang yang hafal nama pemain tapi tidak pernah sekali pun merasakan beratnya berlari dengan kaki yang sudah kram sejak babak pertama.


Negeri ini memang ajaib.


Di tempat lain, orang berlatih dulu sebelum bicara soal teknik. Di sini, bicara dulu, berlatih nanti — kalau sempat, kalau mau, kalau tidak ada pertandingan baru yang lebih seru untuk dikomentari dari balik layar.


Para Profesor Tribun akan terus lahir. Setiap generasi mencetak angkatan baru. Mereka lulus tanpa keringat, diangkat tanpa SK, dan pensiun tanpa pesangon — hanya meninggalkan arsip komentar yang, sepuluh tahun kemudian, bahkan mereka sendiri malu untuk dibaca ulang.


Tapi itulah indahnya tribun.


Tidak ada lumpur. Tidak ada pertanggungjawaban. Dan bola tetap menggelinding — ditendang oleh mereka yang mau berkeringat di bawah terik, disoraki penonton, dan tetap berlari meski kaki sudah berat sejak menit ke-70.


*Ditulis oleh seseorang yang juga lebih sering duduk di tribun, tapi setidaknya tahu bahwa dirinya sedang duduk di tribun.

Comments