Pak Otto Scharmer menutup tulisannya dengan pertanyaan yang menurutnya paling penting di alam semesta: apa bagianku? Apa bagian kita? Jawabannya bukan berupa rencana rinci, tapi soal menyelaraskan tiga hal: ke mana perhatian kita tertuju, apa niat kita, dan bagaimana kita bertindak.
Saya baca ini dan langsung teringat hadits pertama di kitab Arbain Nawawi yang ssaya pelajari sebelum akil balig: "sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya." Sekilas, hadits ini sering dipahami cuma soal niat sebelum bertindak, semacam syarat administratif. Tapi kalau didalami, sebenarnya persis seperti tiga hal yang disebut pak Otto.
Perhatian itu soal di mana hati kita benar-benar berada — bukan yang kita klaim, tapi yang sungguh-sungguh kita rasakan. Niat itu arah yang kita tuju setelah perhatian itu terkumpul. Dan tindakan itu apa yang kita lakukan dengan keduanya. Kalau salah satu dari tiga ini tidak selaras, hasilnya jadi hambar. Niat bisa benar, tapi kalau perhatian kita berantakan, tindakan tetap terasa kosong. Perhatian bisa fokus, tapi kalau niatnya tidak jelas, tindakan jadi tidak tentu arah.
Kita bisa lihat ini dalam hal sekecil apa pun. Seseorang mendengarkan keluh kesah temannya sambil terus melirik ponsel — perhatiannya berantakan, walau niatnya mungkin baik. Seseorang bekerja keras siang malam, tapi tidak pernah jelas untuk apa sebenarnya — daya besar tapi arah tidak jelas. Hasilnya sama-sama terasa hambar, meski dari sisi berbeda.
Saya rasa inilah kenapa banyak pekerjaan baik — termasuk pekerjaan saya sendiri, kadang — malah bikin capek, bukan bikin hidup. Bukan karena tujuannya salah, tapi karena perhatian, niat, dan tindakannya tidak pernah benar-benar selaras.
Inilah dasar dari apa yang selama ini saya sebut "hutang cahaya." Bukan sekadar rasa syukur yang samar-samar. Ini klaim yang jelas: siapa pun yang pernah menerima kebaikan — ilmu, kesempatan, pertolongan yang tidak mungkin dibalas langsung kepada orang yang memberinya — punya hutang yang cuma bisa dilunasi dengan membuka jalan buat orang lain. Hutang itu baru benar-benar lunas kalau perhatian, niat, dan tindakan kita selaras mengarah ke situ. Kalau tidak, itu cuma formalitas.
Lanjut ke tulisan terakhir: soal gerhana matahari yang terjadi saat pak Otto pulang dari Bali, dan apa artinya menyalakan "matahari" dalam diri kita sendiri.
#Niat #HutangCahaya #TheoryU

Comments
Post a Comment