Pemahaman Tekstual atas Hadits dalam Bayang-Bayang Rudal Sijjil


Ada semangat menyala di Tanah Air. Bangsa ini tengah giat-giatnya membumikan hadits Nabi: “Ajarkan anakmu berenang, memanah, dan berkuda.” Maka dibangunlah arena berkuda di dekat mal, kursus memanah di lantai dua ruko, dan kolam renang yang airnya lebih sering dipakai selfie daripada olah daya tahan. Kaum ibu mengantar anak-anaknya berkuda sambil memegang cangkir latte, kaum ayah memotret sasaran panah anak-anaknya untuk Instagram, dan para pelatih renang sibuk mengingatkan agar peserta tidak pakai sunscreen berlebihan karena bikin air kolam jadi licin.


Tentu, ini semua sesuai sunnah. Demi mengikuti jejak dan arahan sang Nabi. Demi membentuk generasi tangguh, katanya. Tapi ada satu yang luput kita lihat: di saat kita sibuk membidik papan target dari jarak sepuluh meter, Iran justru membidik Israel dari jarak 1.600 kilometer. Rudal-rudalnya meluncur bukan dengan kuda, melainkan dengan kendaraan berat penuh peralatan modern dengan perhitungan balistik untuk menjamin presisi. Kita yang memanah dari busur rotan masih asyik menyentuh angka delapan, sementara mereka sudah menghitung koordinat GPS dan potensi kecepatan mach 8 di dataran tinggi Golan.


Iran, entah kenapa, tampaknya membaca hadits itu dengan cara berbeda. Mereka tidak terlalu repot mencari kuda di kota, atau busur di toko peralatan olahraga. Mereka sibuk dengan laboratorium, pusat riset teknologi, dan pabrik drone. Kalau di Indonesia “memanah” adalah kegiatan akhir pekan, di Iran “memanah” adalah soal mempertahankan negeri dari kemungkinan dibombardir. Di sini “berenang” dilakukan di kolam hotel syariah, di sana “berenang” bisa berarti bertahan di laut lepas melawan kapal induk musuh dengan taktik gerilya maritim.


Kita memang bangsa yang cinta simbol. Kalau ada ajakan memanah, kita beli panah. Kalau ada ajakan berkuda, kita pesan kuda poni. Tapi bila ada ajakan berpikir, kita cari pembimbing ruqyah. Sementara itu, Iran—negara yang sering kita tengok sinis karena beda mazhab—justru berjalan dengan kepala tegak: meneliti, mengembangkan, dan menghadirkan makna dari teks agama ke dalam dunia nyata. Bukan hanya dalam bentuk banner dan baliho, tapi dalam bentuk sistem pertahanan, teknologi medis, bahkan literasi saintifik rakyatnya.


Jangan salahkan bila suatu saat nanti generasi kita memang lihai berenang, tapi tenggelam dalam gelombang zaman. Mahir berkuda, tapi tak pernah mampu menunggangi perubahan. Pandai memanah, tapi tak punya sasaran yang jelas—karena hidupnya sibuk mencari likes, bukan legacy.


Sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: benarkah kita sedang meneladani Nabi? Atau kita cuma ikut-ikutan festival gaya hidup islami yang lebih banyak debu daripada substansi?


Iran mungkin tidak sempurna. Mereka juga punya represi, kontroversi, dan perkara-perkara yang tak bisa kita teladani. Tapi satu hal yang bisa kita akui: mereka paham bahwa memanah bukan cuma soal anak panah. Tapi soal arah, jarak dan kecepatan. Dan di situlah letak bedanya.

Comments