Mengosongkan Dulu, Baru Mengisi (Bagian 1 dari 6 Tulisan)


Pekan lalu saya ikut pelatihan bersama pak Otto Scharmer di Bali. Ini rangkaian pembelajaran setelah Yokohama dan Boston. Beliau lalu menulis renungan 12 poin tentang zaman kita sekarang. Waktu saya baca tulisannya, rasanya seperti mendengar orang lain menceritakan hal yang baru saja saya rasakan sendiri — cuma pakai kata-kata yang berbeda.


Pak Otto membuka tulisannya dengan cerita tentang Dewa Siwa. Awalnya beliau kira Siwa adalah dewa perusak. Jujur, saya juga tahunya seperti itu. Tapi seorang teman di Bali meluruskan: Siwa itu bukan perusak, melainkan dewa yang melarutkan dan membersihkan — dia membuka ruang supaya ada tempat untuk hal baru datang.


Saya langsung teringat satu ajaran yang saya pegang: sebelum kita bisa diisi hal baru, kita harus mengosongkan diri dulu. Ibarat gelas — kalau masih penuh air lama, air baru tidak akan muat. Dalam tradisi kita, ini yang disebut mengosongkan hati dari sifat buruk sebelum mengisinya dengan sifat baik. Sebelum ada pembaruan — di diri kita, di organisasi, di negara — selalu ada sesuatu yang harus dilepaskan lebih dulu.


Ini bukan berarti kita kehilangan sesuatu yang sia-sia. Justru ini syarat supaya yang baru bisa datang. Ulama sufi menyebutnya *fana'* — semacam "mematikan" ego supaya yang lebih murni bisa tumbuh. Guru Zen yang pernah saya temui di Jepang mengajarkan hal serupa, cuma pakai istilah lain.


Yang menarik, kita sering menolak proses sederhana ini. Sebuah lembaga sering mempertahankan cara lama karena melepaskannya terasa seperti kekalahan. Padahal sebenarnya itu jalan untuk membuka ruang baru. Saya sering lihat ini di dunia filantropi — organisasi takut menghentikan program yang sudah tidak efektif, karena menghentikannya dianggap sebagai kegagalan.


Padahal, tidak ada yang bisa tumbuh di gelas yang masih penuh.


Jadi pertanyaan buat saya sendiri: apa, di lembaga saya, di hidup saya, yang paling perlu saya lepaskan dulu sebelum bisa mengisi hal yang baru?


Lanjut di bagian berikutnya: tiga hal yang sedang mengikis "tanah sosial" kita — dan bagaimana bentuknya kalau dilihat dari dunia zakat dan wakaf.


#TheoryU #OttoScharmer #HutangCahaya

Comments