Massachusetts, Selayang Pandang


sebuah catatan perjalanan bulan Juni yang tidak sepenuhnya direncanakan


Belum lama saya menginjakkan kaki di tanah Massachusetts di penghujung musim semi — musim yang oleh penduduk lokal disebut “summer” meski kalender astronomi belum tentu sepakat. Langit cerah, angin sepoi, suhu sekitar dua puluh derajat Celsius. Seorang warga asli berpapasan dengan saya di trotoar, menatap langit sebentar, lalu berkata dengan ekspresi seorang nabi yang baru menerima wahyu:


“Wicked gorgeous day.”


Saya mengangguk. Belakangan saya tahu, ini adalah pujian tertinggi yang tersedia dalam kosakata meteorologi Massachusetts. Dua puluh derajat di bulan Juni adalah berkah yang tidak boleh disia-siakan — sebab penduduk di sini masih menyimpan trauma kolektif dari tujuh bulan sebelumnya yang sebagian besarnya berwarna abu-abu dan berbau mantel tebal.


Namun keindahan Juni itu segera terusik begitu saya mencoba menyeberang jalan.


Seorang pengemudi melaju dari arah kanan dengan kecepatan yang seolah ia baru ingat ada janji penting pada tahun 1987 dan baru sekarang berangkat. Tidak ada klakson. Tidak ada rem. Yang ada hanya tatapan dari balik kaca — tatapan yang dalam bahasa daerah setempat rupanya berarti “selamat datang, nikmati kunjungan Anda.”


Dan lampu sein? Di sinilah saya perlu berhenti sejenak untuk berbicara dari hati ke hati.


Di Massachusetts, lampu sein rupanya dianggap sebagai pengakuan kelemahan. Menyalakannya berarti Anda sedang memberitahu orang lain tentang rencana Anda — dan warga Massachusetts, dengan naluri independensi yang sudah mengakar sejak mereka melempar teh ke pelabuhan Boston pada 1773, tidak suka rencananya diketahui siapa pun. Maka lampu sein dibiarkan mati. Rahasia tetap terjaga. Demokrasi terpelihara.


Saya teringat kampung halaman. Di Indonesia pun lampu sein bukan tanpa kontroversi — bedanya, di sana ia tidak didiamkan, melainkan diputarbalikkan. Ada sebuah tradisi berkendara yang telah lama saya amati dengan kekaguman seorang antropolog: sein kanan, belok kiri. Sein kiri, belok kanan. Atau sein menyala sepanjang jalan tanpa belok sama sekali, berfungsi murni sebagai hiasan, seperti lampu natal yang dipasang bukan karena Natal melainkan karena lampunya cantik.


Pelakunya lintas gender dan lintas usia, namun saya tidak akan berbohong — ada satu karakter yang paling ikonik dalam tradisi ini: emak-emak berkerudung, duduk tegak di atas motor matik, dengan keyakinan penuh bahwa sein kanan yang ia nyalakan adalah urusan pribadinya dengan Tuhan, bukan informasi publik untuk pengguna jalan lain. Belok ke kiri dilakukan dengan tenang, dengan bismillah yang tulus, dan dengan kecepatan yang tidak bisa digugat oleh logika mana pun.


Di Massachusetts, orang tidak memberi sein mungkin karena sombong. Di Indonesia, orang memberi sein yang salah karena — saya menduga — mereka sedang berkomunikasi dalam dimensi yang berbeda. Keduanya sama-sama membuat saya berdiri di pinggir jalan, tidak jadi menyeberang, dan merenungkan nasib.


Saya lalu mencoba bepergian.


Seseorang berkata, “It’s a short drive, maybe twenty minutes.” Di bulan Juni, katanya, jalanan lebih bersahabat — tidak ada salju, tidak ada black ice, tidak ada alasan untuk menderita.


Ini setengah benar. Salju memang tidak ada. Tapi rotary-nya tetap ada — bundaran yang dirancang bukan oleh insinyur melainkan oleh sapi-sapi yang berkeliaran bebas pada abad ketujuh belas, mungkin sapi-sapi yang sedang dalam keadaan filosofis dan tidak ingin memberikan jawaban yang terlalu pasti tentang arah. Di bulan Juni, bundaran itu tetap sama membingungkannya, hanya kini dihiasi turis yang juga sama-sama bingung, sehingga tercipta ekosistem kebingungan yang saling menguatkan.


Dan Interstate 93 tetaplah Interstate 93 — jalan yang di musim panas dipenuhi orang-orang yang bersemangat pergi ke Cape Cod, sehingga “short drive twenty minutes” berubah menjadi meditasi paksa di dalam mobil selama sejam lebih, ditemani podcast dan penyesalan.


Namun ada hal yang mendamaikan.


Di bulan Juni, Massachusetts hidup dengan cara yang berbeda. Orang-orang duduk di taman, berjalan di tepi Charles River, makan es krim sambil melihat perahu layar kecil yang tampak seperti mainan di atas air yang berkilat. Lobster roll dimakan di luar ruangan, di bawah matahari yang akhirnya muncul setelah berbulan-bulan absen tanpa keterangan.


Dan meski tadi seseorang di persimpangan memotong jalur saya tanpa sein, tanpa permisi, tanpa rasa bersalah yang tampak — dua menit kemudian ia terparkir di depan toko dan dengan sukarela menahan pintu untuk saya, dengan anggukan singkat yang dalam bahasa tubuh Massachusetts berarti: “Kita baik-baik saja. Kejadian tadi tidak ada dalam catatan resmi.”


Inilah Massachusetts. Negeri tempat Juni terasa seperti hadiah yang harus segera dinikmati sebelum Oktober datang mencabutnya kembali. Tempat jalanan dibuat oleh sapi namun dilalui dengan penuh percaya diri. Tempat lampu sein adalah pilihan, bukan kewajiban — dan kehangatan manusianya disampaikan melalui cara-cara yang tidak akan Anda temukan di buku panduan wisata mana pun.


Saya menatap langit Juni yang biru bersih di atas Boston.


Wicked gorgeous, pikir saya.


Rupanya saya sudah mulai mengerti bahasa di sini.


Ditulis di tepi Charles River, sambil menunggu Dunkin’ yang kesekian, di bawah matahari yang — untuk ukuran New England — cukup bisa diandalkan hari ini.

Comments