Keberuntungan yang Menyamar


Hidup, saya percaya, adalah pergerakan dari satu keberuntungan ke keberuntungan lainnya — selama kita mau menerimanya dalam bingkai syukur.


Pagi-pagi sekali saya meninggalkan rumah, menuju bandara. Soetta untuk bertolak menuju Cambridge, Massachusetts. Rute yang dipilih melewati Narita, Tokyo — sekadar transit dua, tiga jam sebelum melanjutkan ke Logan, Boston. Begitulah rencananya. Tapi Yang Maha Mengatur rupanya punya skenario yang jauh lebih menarik.


Mesin pesawat bermasalah. JAL mengumumkan penerbangan dibatalkan hingga esok hari. Ada kekecewaan yang sempat menyelinap — bayangan suasana Harvard Yard dan koridor MIT yang sudah terbayang sejak jauh hari, tiba-tiba menguap begitu saja.


Jepang, rupanya, belum selesai dengan saya.


Beberapa waktu lalu, saya pernah duduk diam di Kamakura — di hadapan keheningan yang diajarkan tradisi Zen berabad-abad lamanya. Saya belajar bahwa mushin, pikiran yang kosong dari agenda, adalah pintu masuk menuju kehadiran yang sesungguhnya. Thich Nhat Hanh menyebutnya interbeing — segala sesuatu saling terhubung dengan cara yang tidak selalu bisa kita rancang.


Mungkin itulah yang sedang terjadi malam itu di Narita.


Sebelum memasuki Cambridge — kota yang penuh intensitas intelektual, tempat MIT IDEAS menunggu dengan segala tuntutan presencing-nya — Jepang menahan saya sejenak. Bukan sebagai hambatan. Tapi sebagai jeda yang dikirimkan.


Para petugas JAL bergerak dengan tenang dan sigap — tidak ada kepanikan, tidak ada senyum yang hilang. Setiap pertanyaan dijawab dengan kesabaran yang terasa tulus. Ada wa — harmoni — dalam cara mereka melayani. Sebuah pelajaran kecil yang sering kita lupakan di tanah sendiri. Ini juga sebuah pelajaran kecil tentang pelayanan, yang sering kita lupakan di tanah sendiri.


Kami dikawal melewati pintu imigrasi, diurus visa on arrival-nya, lalu diantar menuju Hotel Nikko Narita. Malam itu, saya bermalam di Jepang — tanpa rencana, tanpa biaya, tanpa mengurus selembar pun dokumen keberangkatan.


Esok paginya, sebelum kembali ke bandara, ada waktu untuk sekadar berkeliling. Tokyo yang sibuk menyapa dengan caranya yang khas — hiruk pikuk yang tertib, keramaian yang sopan. Sebuah kota yang selalu berhasil mengajarkan sesuatu, bahkan ketika kita hanya singgah satu-dua jenak. Dan di balik semua itu — keheningan yang sudah saya kenal dari Kamakura, masih berdenyut pelan di bawah permukaannya.


Dan siang ini saya akan melanjutkan perjalanan ke Boston — dengan satu malam Jepang yang tidak pernah saya rencanakan, tapi tidak akan pernah saya lupakan. Ini sebuah settling dariNya — seperti yang diajarkan Theory U — berhenti, hadir penuh, sebelum terjun ke kedalaman berikutnya.


Begitulah cara keberuntungan bekerja. Ia tidak selalu datang dengan wajah yang kita kenali. Kadang ia menyamar sebagai kerusakan mesin, pembatalan penerbangan, dan satu malam tak terduga di negeri saudara tua.


Comments