Refleksi atas sesi Prof. Sanjay Sarma — MIT IDEAS Asia Pacific, 9 Juni 2026
Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya sejak sesi pagi itu berakhir.
Prof. Sanjay Sarma berbicara tentang emergence — momen-momen tak terduga ketika sesuatu yang baru dan bermakna muncul dari kekacauan, dari gesekan, dari ketidakpastian yang kita biarkan hadir. Ia berbicara tentang jazz, tentang sapuan kuas yang tidak terduga, tentang tanda baca dalam puisi yang tiba-tiba menghantam dada. Saya duduk dan mendengarkan, dan sesuatu dalam diri saya bergetar — bukan karena ide itu baru, melainkan karena ia menyentuh sesuatu yang sudah lama saya rasakan tapi belum bisa saya namai dengan tepat.
Emergence bukan sekadar kreativitas. Ia adalah bukti bahwa kita masih manusia.
Mesin yang Fasih tapi Tidak Hadir
Prof. Sarma menjelaskan bagaimana AI generatif bekerja: ia menetapkan nilai vektor pada setiap kata, lalu secara probabilistik memilih kata berikutnya — sebuah autocorrect yang sangat canggih. Setiap kalimat bisa terdengar masuk akal, bahkan mengesankan. Namun ketika dibaca secara keseluruhan, sesuatu terasa hilang. Tidak ada benang merah. Tidak ada kehendak.
Seorang peserta menyatakan: yang penting adalah kekhawatiran itu sendiri, kegelisahan tentang apakah kita menyerahkan terlalu banyak. Itulah, —katanya, yang tidak bisa dilakukan AI: bukan sekadar berpikir, melainkan peduli pada arah pikirannya sendiri.
Intentionality. Kehendak yang sadar akan dirinya sendiri.
Saya berpikir tentang tulisan-tulisan saya. Tentang ceramah-ceramah di kelas. Tentang proposal-proposal program yang kami rancang dengan kegelisahan — apakah ini benar-benar akan mengubah nasib orang? Apakah dana titipan ini akan sampai kepada yang berhak? Kegelisahan itu bukan hambatan. Kegelisahan itu adalah pekerjaan.
AI tidak gelisah. Itulah bedanya.
Atrofi yang Diam-diam
Yang lebih mengganggu dari kecerdasan AI adalah peringatan Prof. Sarma tentang atrofi — kemampuan kita yang perlahan mengecil karena kita terlalu sering mendelegasikannya kepada pihak lain.
Google Maps membuat kita lupa membaca arah. Sistem Autopilot membuat pilot tergagap memutuskan tindakan secara otonom. Gadget dan media sosial membuat kita lupa kehadiran seseorang yang duduk di seberang meja.
Plato, katanya, sudah khawatir tentang hal ini sejak dua ribu tahun lalu — bahwa kebiasaan menulis akan melemahkan kemampuan mengingat. Setiap teknologi baru membawa hadiah sekaligus tagihan. Tagihan itu sering dibayar diam-diam, tanpa kita sadari, dari rekening kemampuan kita yang paling insani.
Saya teringat sebuah pertanyaan yang Prof. Sarma ajukan kepada peserta: ia tidak sempat membaca sebuah makalah AI, lalu ia meminta AI mengubahnya menjadi podcast untuk didengar dalam perjalanan. Apakah tindakan itu menyerahkan agency, ataukah memperkuatnya?
Jawabannya tidak hitam putih. Tetapi kuncinya, kata Prof. Sarma, adalah bahwa ia kembali membaca makalah aslinya — karena AI bisa salah, dan karena beberapa hal tidak bisa diwakilkan.
Intensi yang kembali. Itulah yang membedakan penggunaan dari kebergantungan.
Ruang Kosong yang Harus Kita Jaga
Emergence tidak terjadi di tempat yang terlalu rapi. Ia muncul di celah-celah, di antara jeda, di momen ketika kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Prof. Sarma menyebutnya hallowed ground — tanah yang disucikan — yang harus kita ciptakan dan jaga: percakapan yang tidak direncanakan, jalan kaki tanpa tujuan pasti, musik yang menciptakan dan sekaligus menyelesaikan ketegangan.
Saya memikirkan betapa sedikit ruang seperti itu yang kita sisakan dalam kehidupan modern. Kalender yang padat. Notifikasi yang tak henti. Presentasi yang harus selesai sebelum matahari terbit besok pagi.
Dan saya memikirkan meditasi — mushin, khusyu’, keheningan yang bukan kekosongan melainkan kepenuhan yang berbeda. Mungkin apa yang para mistikus sebut sebagai kehadiran penuh adalah prasyarat bagi emergence yang Prof. Sarma maksudkan. Kita tidak bisa hadir dan absen pada saat yang sama. Kita tidak bisa memunculkan sesuatu yang baru jika kita terus-menerus dalam mode retrieve and repeat.
Struktur Sebagai Syarat Kebebasan
Ada satu hal yang saya renungkan sebagai tambahan atas pemikiran Prof. Sarma — dan saya tidak sendirian dalam kesan ini. Emergence memang membutuhkan keterbukaan dan kekacauan yang produktif. Namun ia juga membutuhkan struktur.
Bukan struktur yang membelenggu, melainkan struktur yang memberi makna. Seorang improvisator jazz yang terbaik hafal ribuan akord, ribuan skala, ribuan sejarah not sebelum ia bisa “membuang” semua itu dalam satu momen yang murni. Kebebasannya bertumpu pada disiplin yang dalam.
Demikian pula dalam kerja filantropi — atau dalam mengajar di kelas, atau dalam menulis. Emergence yang bermakna lahir dari intensi yang jelas, yang tumbuh dari struktur nilai yang telah kita rawat lama. Bukan emergence yang acak, melainkan emergence yang berakar.
Catatan Penutup untuk Diri Sendiri
Saya keluar dari ruangan itu dengan satu pertanyaan yang ingin saya bawa sepanjang program ini:
Di mana saya sudah mulai menyerahkan terlalu banyak — dan tidak menyadarinya?
Bukan pertanyaan yang mudah diperoleh jawabannya. Tapi mungkin itulah gunanya tempat seperti ini: ruang yang cukup aman untuk bertanya hal-hal yang tidak nyaman.
Curiosity — be willing to be uncomfortable.
Itu yang tertulis di papan scribing Kelvy Bird. Tepat di akar pohon yang dalam. Rupanya, akar yang paling kokoh tumbuh di tanah yang paling gelap.
Cambridge, Massachusetts — Juni 2026 Catatan jurnal pribadi, MIT IDEAS Asia Pacific Fellowship

Comments
Post a Comment