Satu Muharram kembali bertamu di halaman waktu kita, mengingatkan bahwa perjalanan belum usai. Kita membuka lembar baru dalam kalender, tapi entah apakah kita benar-benar membuka lembar baru dalam hati.
Hijrah, —kata yang mulia itu, kini sering terdengar di mana-mana. Digaungkan di panggung-panggung dakwah, dicetak di kaus dan spanduk motivasi, dan dijadikan slogan perubahan diri. Tapi seperti banyak kata suci lainnya, ia perlahan kehilangan kedalaman makna. Disederhanakan, direduksi, dan kadang dipakai untuk memisahkan, bukan menyatukan.
Di zaman ini, kata “hijrah” kadang malah menjadi tonggak penanda: siapa yang sudah, siapa yang belum. Siapa yang pantas disebut saudara, dan siapa yang wajib dijauhi. Dan dalam banyak ruang, bahkan sesama pengucap syahadat pun saling menatap dengan curiga. ‘Aqidahnya sesat!’
Lalu kita teringat lagi satu kenyataan pahit yang terlalu lama dibiarkan membeku di dalam sejarah: umat Islam pecah oleh nama-nama yang mereka muliakan. Sunni dan Syiah. Dua kutub yang sama-sama mengaku mencintai Nabi, tapi tak henti saling mencurigai. Satu pihak menyebut yang lain sesat karena terlalu memuliakan Ahlul Bait. Sebaliknya, satu menyebut yang lain lalai karena terlalu memuliakan sahabat.
Padahal, cinta yang tulus tidak pernah salah. Cinta kepada keluarga Nabi adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Bahkan para ulama besar dari kalangan Sunni pun menaruh hormat luar biasa kepada Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Tapi entah sejak kapan, cinta yang tulus itu justru dianggap mencurigakan. Seakan ada batas yang tidak tertulis, bahwa kecintaan pada Ahlul Bait hanya boleh sampai level tertentu — selebihnya akan dipanggil ‘Syiah’ dan dijauhkan. Kalaupun mereka mencoba mendekat, ‘Mereka bertaqiyah!’
Tentu saja sejarah punya ceritanya sendiri. Luka-luka lama dari Siffin dan Karbala belum benar-benar sembuh. Tapi kalau semua luka diwariskan tanpa pernah ada usaha untuk menyembuhkan, lalu apa gunanya kita memperingati hijrah Nabi? Bukankah Madinah dibangun sebagai tempat perlindungan atas konflik? Semestinya hijrah itu bukan hanya sekadar perpindahan fisik, tetapi juga peralihan dari dendam ke cinta kasih, dari permusuhan ke persaudaraan yang beradab?
Apa arti hijrah jika hati kita masih tinggal di medan perang lama, saling menuduh dan membenci atas nama tafsir yang berbeda?
Hijrah mestinya adalah perjalanan menuju kedewasaan spiritual. Kita tidak sedang dituntut untuk menjadi satu mazhab, satu cara pikir, satu gaya ibadah. Tapi kita sedang diuji: bisakah kita menjadi satu umat — yang berbeda-beda tapi saling menjaga? Yang tidak saling menghakimi keimanan orang lain hanya karena jalur keyakinan sejarahnya tidak sama?
Nabi yang kita cintai tidak pernah mengajarkan fanatisme sempit. Ia bahkan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, merangkul kaum Yahudi dan Nasrani dalam piagam Madinah, dan menegur para sahabat saat fanatisme suku muncul kembali.
Kalau hari ini kita yang mengaku umatnya justru saling menuding, memusuhi karena perbedaan sebutan dan jalur keilmuan, maka mungkin kita belum benar-benar berhijrah. Kita hanya berpindah dari satu sudut fanatisme ke sudut lainnya.
Tahun baru Hijriah ini seharusnya menjadi cermin besar yang menggugah kita: sudahkah kita hijrah dari permusuhan ke persaudaraan? Sudahkah kita berpindah dari mencurigai saudara seiman, menjadi memahami bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan mozaik dari rahmat?
Jika cinta pada keluarga Nabi membuat seseorang disalahpahami, maka barangkali yang perlu dikoreksi bukan cintanya — tapi cara kita memahami warisan Islam itu sendiri.
Hijrah Rasulullah belum selesai, karena umatnya masih saling menjauh, bukan saling mendekat. Dan selama itu pula, kita belum benar-benar layak menyebut diri sebagai penerus risalahnya.
Selamat tahun baru Hijriah.
Semoga kita semua benar-benar berhijrah — dari dendam sejarah menuju damai yang hakiki.

Comments
Post a Comment