Pak Otto Scharmer menutup tulisannya dengan cerita kecil: ada gerhana matahari tepat pada hari dia terbang pulang dari Bali. Dia menyebut pemahaman orang Bali tentang gerhana — bukan sebagai bencana, tapi sebagai ajakan untuk menyalakan matahari di dalam diri kita, saat matahari di luar sedang meredup.
Sepekan ini saya terus memikirkan gambaran itu, sambil mengingat lima tulisan sebelumnya: soal mengosongkan diri dulu supaya bisa diisi yang baru, soal hubungan sosial yang mulai retak, soal perhatian bersama yang saya kenali sebagai khusyu', soal contoh-contoh kecil yang harus berhasil dulu sebelum bisa menular, dan soal menyelaraskan perhatian, niat, dan tindakan di setiap langkah kita.
Setiap krisis yang pernah saya alami dari dekat — entah di pekerjaan, di keluarga, atau di hidup pribadi — punya bentuk yang sama. Dari dalam, rasanya seperti bencana. Padahal jarang benar-benar begitu. Lebih sering, itu cuma gerhana: peredupan sementara yang justru membuka ruang untuk sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak akan terlihat kalau cahaya luar masih terlalu terang.
Di sinilah semua tulisan ini bermuara buat saya. "Hutang cahaya" bukan hutang yang dilunasi sekali dengan gestur besar. Ia dibayar sedikit demi sedikit, oleh orang-orang biasa, dalam pekerjaan dan hubungan yang biasa saja, yang merawat sesuatu yang mungkin baru akan berbuah bertahun-tahun kemudian. Ada kalimat lama yang sering dikutip saat runtuhnya Tembok Berlin: banyak orang kecil, di banyak tempat kecil, melakukan banyak hal kecil, bisa mengubah wajah dunia. Saya rasa ini bukan sekadar kalimat manis. Ini persis seperti yang diajarkan agama kita: amal yang paling dicintai Allah bukan yang paling besar, tapi yang paling terus-menerus, meski kecil.
PAk Otto pergi ke Bali mencari cara menjelaskan zaman kita sekarang. Saya pergi ke sana untuk menemukan pembenaran atas sesuatu yang sudah lama saya yakini. Dan saya rasa kami sama-sama sampai pada kesimpulan yang sama, hanya dari dua arah berbeda: bahwa pekerjaan apa pun yang ada di depan kita — apa pun profesi kita, apa pun peran kita — dimulai dari kesediaan melepaskan yang sudah tidak berguna, menjaga hubungan kita tetap "bernapas," dan menyalakan cahaya dalam diri kita, mulai dari sekarang.
Setiap hari, setiap saat: sekarang.
Sekian seri enam bagian ini. Terima kasih sudah membaca sampai akhir.
#HutangCahaya #TheoryU #OttoScharmer
Comments
Post a Comment