Dukun Digital dan Azab Instan


Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, dikabarkan tengah mengalami penyakit autoimun yang menyerang kulit—ada yang menyebutnya Stevens-Johnson Syndrome, walau belum bisa dipastikan. Ini penyakit langka dan serius. Bukan gatal-gatal musiman akibat salah sabun atau digigit nyamuk pers.


Namun di negeri +62 ini, informasi medis tak pernah berjalan sendiri. Ia selalu diiringi iring-iringan opini dadakan: komentar dari pakar spiritual musiman, netizen bersertifikat batin, dan tentu saja—dukun digital bertitel dokter.


Ya, dokter. Tapi bukan sembarang dokter. Ini tipe dokter yang keahliannya bercampur baur dengan kejiwaan dan agama, bukan pada diagnosis klinis berbasis uji laboratorium, melainkan pada screen capture, video TikTok, dan insting tajam seperti sinetron azab episode 417. Mereka cukup melihat satu-dua detik cuplikan wajah pucat Presiden, lalu bersabda: “Ini bukan penyakit biasa. Ini azab Tuhan akibat banyak berbohong!”


Waduh. Apakah ‘Tuhan’ sudah melakukan outsourcing urusan penghakiman ke komentator Instagram dan YouTube. atau bisa jadi karena ‘Tuhan’ lebih sibuk dengan semesta lain yang lebih waras.


Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian dari mereka menyebut diri tenaga medis dengan gelar akademis asli. Tapi gaya diagnosisnya lebih mirip dukun istana zaman Majapahit—bedanya kalau dulu pakai daun sirih, daun kelor atau kemenyan, sekarang pakai filter wajah dan Google Translate jurnal medis. Mereka bahkan bisa menebak niat Tuhan hanya dari warna kulit pasien.


Autoimun adalah kondisi ketika sistem imun tubuh keliru menyerang dirinya sendiri. Ini penyakit yang bisa menyerang siapa saja—dari tukang tambal ban yang jaminan kesehatannya dibayari pemerintah, sampai kepala negara yang kesehatannya ditangani tim dokter ahli kelas wahid. Tapi bagi sebagian orang, ini bukan soal imunologi, melainkan karma politik.


Kalau tokoh yang sakit adalah rival politik mereka, langsung dicap “tanda-tanda kehancuran”. Tapi kalau yang sakit itu tokoh sebarisan, cepat-cepat dikatakan sebagai “cobaan untuk menaikkan derajat keimanan.” 


Tentu kita tidak butuh lagi rumah sakit. Cukup siapkan akun medsos dan ilmu cocoklogi, maka jadilah: Klinik Tafsir Azab 4.0. Lengkap dengan layanan konsultasi via komentar dan diagnosa spiritual dalam waktu kurang dari satu menit.


Sakit adalah bagian dari kehidupan. Ia datang tak peduli pangkat, partai, atau jumlah followers. Bisa menyerang Jokowi atau Eggi Sudjana. Maka mari tetap waras. Doakan yang sakit, ucapkan simpati, dan tahan jempol dari menjadi hakim yang mewakili Tuhan.


Dulu kusta atau lepra, disebut sebagai penyakit akibat kutukan Tuhan. Sampai kemudian terbukti, penyebabnya adalah infeksi Mycobacterium leprae. Untung nggak terdata, siapa orang pertama yang menyebut kusta adalah penyakit kutukan. Nah sekarang, sudah ada jejak sosial media, yang akan menyimpan kata dan laku kita, lalu, —cepat atau lambat, menjadi bukti benar atau salah. Nah kalau salah, mau ditaruh di mana muka kita?


Karena kalau semua penyakit adalah azab, maka rumah sakit adalah neraka, dan dokter adalah algojo. Padahal sejatinya, yang menyebarkan sakit hati dan kebencian diam-diam itulah yang perlu diobservasi lebih lanjut—bukan dengan MRI, tapi dengan cermin besar bernama nurani.

Comments