Dua Jalan Menuju Amerika (dan Bumi Ternyata Memang Bulat)


Saya tidak pernah berencana menjadi penjelajah. Ferdinand de Magelhaens membutuhkan armada kapal dan waktu bertahun-tahun dengan nyawa sebagai taruhannya. Saya melakukannya dengan dua tiket return pesawat kelas ekonomi, satu koper, dan koneksi WiFi yang lumayan banter.


Tapi hasilnya sama: bukti bahwa bumi itu bulat.


Perjalanan pertama, saya terbang Jakarta–Dubai–New York. Ke barat. Melintasi Timur Tengah, Eropa, Atlantik. Standar. Bisa diprediksi. Saya tiba di negeri paman Sam dengan jet lag paripurna dan keyakinan penuh bahwa dunia memang berputar ke arah yang benar.


Perjalanan kedua, saya terbang dengan rute Jakarta–Narita–Boston. Ke timur. Arah yang berlawanan. Melintasi Jepang, Pasifik, pantai barat Amerika, lalu belok kanan menuju Boston. Rute yang secara intuitif terasa seperti kabur menjauhi tujuan — seperti orang yang mau ke warung sebelah tapi memilih jalan memutar lewat gang belakang, RT sebelah, dan lapangan bola.


Dan saya tetap sampai di tujuan.


Di sinilah letak kejenakaannya.


Dua keberangkatan dari kota yang sama. Dua arah yang berlawanan. Satu tujuan yang sama: tanah Amerika. Dan keduanya berhasil.


Kalau bumi itu datar — piringan besar seperti piring terbang raksasa — maka pergi ke arah yang salah seharusnya membawa saya semakin jauh. Saya mungkin akan mendarat di tepi cakram bumi, jatuh ke jurang kosmik, dan tidak ada yang tahu nasib saya.


Tapi tidak. Saya mendarat mulus. Imigrasi Amerika tetap melaksanakan tugasnya seperti biasa di kedua kedatangan. Tanda bahwa segalanya normal.


Saya kadang membayangkan bagaimana menjelaskan ini kepada seorang penganut bumi datar yang gigih.


“Mas, saya pergi ke barat, sampai di Amerika.”

“Iya, itu masuk akal.”

“Tapi saya juga pernah pergi ke timur, tetap sampai di Amerika.”

”…kebetulan.”

“Dua kali?”

“Kebetulan yang konsisten.”


Ada jenis keyakinan yang tidak bisa ditembus oleh fakta. Saya menghormatinya — dari jarak yang aman.


Magelhaens membutuhkan ekspedisi bersejarah untuk membuktikan kebulatan bumi. Banyak awaknya mati. Dia sendiri tidak selamat sampai finish.


Saya sudah melakukannya dua kali, di kursi Boeing 787 kelas ekonomi, selimut tipis, dan beberapa mie gelas sebagai bekal cadangan.


Kalau itu bukan kontribusi untuk ilmu pengetahuan, saya tidak tahu apa namanya.


Bumi memang bulat. Dan ia cukup baik hati untuk mengizinkan kita membuktikannya dari kursi 59D.

Comments